Banyaknya kasus kekerasan pada perempuan dan anak, membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang  berupaya membuat program untuk meminimalisir kasus tersebut. Melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (Bapermasper-KB) Kota Semarang bekerjasama dengan Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) UIN Walisongo Semarang mengadakan Seminar Pananganan Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan.

Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Siliwangi Semarang 6-7 Desember dan 8-9 Desember 2016 ini, dibuka oleh Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag, dan dihadiri oleh Kepala Bapermasper-KB Kota Semarang Bimbong Yogatama. Acara tersebut diikuti oleh 60 peserta dari berbagai instansi di Kota Semarang.

Bambang Yogatama dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini merupakan komitmen Pemkot dalam menangani kekerasan pada perempuan dan anak di kota Semarang. Pemkot telah menyiapkan rumah rehabilitasi khusus bagi para korban akibat kekerasan yang menimpa kaum perempuan dan anak-anak yang diberi nama Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM).

Ia menambahkan, penyediaan RDRM itu,  direalisasikan setelah melihat Kota Semarang berada pada peringkat pertama angka kekerasan pada perempuan se-Jawa Tengah dan maraknya kekerasan seksual, khususnya pada perempuan.

RDRM merupakan bentuk langkah kongkrit Pemkot untuk mewujudkan Resilient City terutama di bidang kesehatan dan psikososial pada anak dan perempuan di Kota Semarang. Adapun program RDRM adalah pencegahan (psikoedukasi), pemulihan masalah (fisik dan psikosial), pendampingan hukum dan psikologi, dan pemberdayaan ekonomi dan psikososial.

“saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN walisongo, karena telah bersinergi dengan Pemkot dalam pembuatan SOP untuk menjalankan RDRM ini”, pungkasnya.

Muhibbin sebagai keynote Speaker mengatakan, munculnya kekerasan pada perempuan dan anak  karena seseorang tidak mendasari akhlaq dalam segala perilaku. Sehingga mereka akan mudah emosi, akal hilang dan ujung-ujungnya menyakiti perempuan dan anak. Bahkan membunuh perempuan dan anak.

Maka pendidikan karakter dalam keluarga sangat penting. “jangan hanya njagakne guru di pendidikan formal karena waktu di pendidikan formal sangat terbatas.” Pungkasnya.

Dilaksanakan dua rundown

Seminar dilaksanakan dalam dua rundown. Pertama, Penyusunan SOP Penanganan Kasus Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan, dilaksanakan pada 6-7 Desember 2016. Adapun pembicara pada seminar ini dari DPD Ikadin Kota Semarang Mohammad Rofyan, SE.,SH., CLA, Ketua Himpsi Jateng Dr. Endang Widyorini, M.Si., Praktisi dan Anggota Dewan Pengurus Women Crisis Center Rifka Annisa Yogyakarta Nur Hasyim, M.A., dan Wakil Dekan III Fakultas Psikologi dan Kesehatan Dr. H. Abdul wahib, M.A.

Kedua, penyusunan SOP Pendampingan Psikologi bagi Kasus Anak Dan Perempuan Sebagai Korban Kekerasan. Dilaksanakan pada 8-9 Desember 2016. Seminar ini oleh Dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang Dr. H. Darmuin, M.Ag., IKADIN Kota Semarang Wisnu Adhi Wardhana, SH., Ketua HIMPSI Jateng Dr. Endang Widyorini, M.Si., Psikolog., Praktisi dan Anggota Dewan Pengurus Women Crisis Center Rifka Annisa Yogyakarta Nur Hasyim, M.A., dan Psikolog Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Lainatul Mudzikiyyah, S.Psi., M.Psi., Psikolog. *sbq

Leave a Comment

Tulisan Terbaru

Upcoming Events

No results found.