Penulis: Nikmah Rochmawati

  1. Pendahuluan

Psikologi transpersonal merupakan aliran baru pengembangan dari psikologi humanistik yang menolak teori dan metode psikologi yang datang sebelumnya, yaitu psikoanalisis dan behaviorisme. Sebagaimana psikologi humanistik, psikologi transpersonal ini secara mendasar berusaha meneguhkan dan mengembangkan potensi manusia (human potential). Hanya saja aliran ini menjangkau hal-hal yang bersifat spiritual yang bertentangan dengan banyak pandangan psikologi sebelumnya.

Karena aliran psikologi transpersonal ini merupakan pe­ngembang­­an dari psikologi humanistik, maka tema utama yang se­nantiasa muncul dalam aliran ini adalah perwujudan kemampuan manusia, di samping hal-hal lain yang bersifat spiritual. Dalam perkembangannya, aliran ini memiliki varian yang cukup beragam. Hal ini terlihat dalam berbagai konsep yang dikemukakan oleh para tokohnya. Dalam tulisan ini, akan diuraikan beberapa tokoh yang secara umum dianggap paling menonjol dan sekaligus merupakan tokoh sentral dalam psikologi humanistik, diantaranya adalah Abraham Maslow dan Carl R.Rogers. Tokoh-tokoh psikologi humanis­tik seperti Arthur W. Combs, Aldous Huxley, David Mills, dan Stanley Scher tidak akan diungkap dalam tulisan ini. Para tokoh yang digambarkan dalam tulisan ini juga akan dibedah pemikirannya yang ada kaitannya denga psikologi transpersonal.

  1. Tokoh dan Teori Aliran Humanistik

Aliran humanistik muncul pada tahun 1940-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behavioristik. Teori ini berkembang pada tahun 1960-an. Teorinya menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri, keunikan individu, dan hal-hal yang bersifat positif tentangmanusia. Bagi sejumlah ahli psikologi humanistik, teori aliran humanistik adalah alternatif, sedangkanbagi se­jumlah ahli psikologi humanistik yang lainnya merupakan pelengkap bagipenekanan tradisional behaviorisme dan psikoanalis (Rachmahana, 2008: 100).

Psikologi humanistik dikenal sebagai “kekuatan ketiga” setelah pendekatan psikoanalisis dan behaviorisme. Pemikiran utama huma­nis­tik menitikberatkan pada individu, seperti kreativitas dan ke­bebasan untuk memilih.Para tokoh humanistik memandang be­havioris­me itu terlalu sempit, karena menurunkan manusia ke tingkat­an seperti sebuah mesin yang dapat diprogram.Mereka mengkritik penekanan Freud pada masalah sakit mental, sebuah aspek negatif dari sifat manusia. Sebaliknya, tokoh humanistik menekankan pada masalah kesehatan mental dengan segala atribut positifnya seperti kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan, kebaikan, kasih sayang, berbagi, dan kedermawanan (Benson, 2000: 109).

  1. Abraham Maslow (1908-1970)

Abraham Maslow merupakan tokoh psikologi humanistik yang paling populer dan dia dikenal sebagai “bapak spiritual” psikologi humanistik.Teori motivasi dari Abraham Maslow merupakan aspek sentral dari humanisme, suatu perspektif yang sangat terkenal dalam psikologi selama 1960-an dan 1970-an. Dengan berakar pada psikologi klinis dan psikologi konseling, humanisme berfokus pada bagaimana individu memperoleh emosi, sikap, nilai, dan ketrampilan interpersonal. Teori-teori humanis lebih berakar pada filosofi di­bandingkan pada temuan-temuan penelitian (Ormrod, 2009: 63).

Menurut pandangan kelompok ini, individu bebas memilih dan menentukan perilakunya, namun ia bertanggungjawab atas perilaku tersebut. Perilaku inilah yang menekankan akan adanya sifat kemanusiaan yang membedakannya dengan hewan. Manusia memiliki kemauan bebas dan dorongan ke arah aktualisasi diri. Perspektif ini juga menolak konsep behavioralisme yang menyatakan bahwa perilaku manusia merupakan mekanisme yang dikendalikan oleh stimuli luar, dan menolak konsep psikoanalisis yang menganggap bahwa manusia dikendalikan oleh impuls tidak sadar, karena manusia merupakan aktor sadar yang mampu mengendalikan nasibnya dan mengubah dunianya.

Konsep utama yang sering kali disandarkan pada Abraham Maslow adalah tentang aktualisasi diri (self-actualization) dan pengalaman puncak (peak-experience). Konsep ini berpandangan bahwa orang yang telah tumbuh dewasa dan matang secara penuh adalah orang yang telah mencapai aktualisasi diri, yaitu yang meng­alami secara penuh gairah tanpa pamrih dengan konsentrasi penuh dalam mencapai apa yang, dalam istilah tasawuf, disebut sebagai manusia yang paripurna (insân kâmil). Orang yang tidak lagi tertekan oleh perasaan cemas, perasaan risau, tidak aman, tidak terlindungi, sendirian, tidak dicintai adalah orang yang telah terbebaskan dari metamotivasi (Khadijah, 2015: 391).

Aktualisasi diri atau self-actualization adalah keinginan menjadi apapun yang sanggup diraih seseorang. Aktualisasi diri dicirikan oleh penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain, spontanitas, keterbukaan, hubungan yang relatif mendalam, tetapi demokratis dengan orang lain, kreativitas, humor, kebebasan.Kesemuanya itu adalah kesehatan psikologis (Slavin, 2011: 103).

Abraham Maslow, salah seorang psikolog Amerika paling terkemuka pada pertengahan abad kedua puluh, mengatakan bahwa manusia memiliki hierarki kebutuhan yang mereka usahakan untuk dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan ini dikategorisasikan menjadi tujuh tingkat. Pada tingkatan yang lebih rendah, kebutuhan tersebut adalah untuk memenuhi tuntutan-tuntutan fisiologis seperti makan, minum, tempat tinggal, rasa aman, dan untuk dicintai dan dimiliki. Kebutuhan-kebutuhan dengan tingkat yang lebih tinggi dalam hierarki Maslow lebih kompleks dan mengacu pada kebutuhan-kebutuhan per­tumbuhan manusia seperti kebutuhan kognitif, estetika dan aktualisasi diri (Arends, 2008: 145).

Maslow mendasarkan teorinya tentang self-actualization pada sebuah asumsi dasar bahwa manusia pada hakikatnya memiliki nilai intrinsik berupa kebaikan. Dari sinilah manusia memiliki peluang untuk dapat mengembangkan dirinya. Perkembangan yang baik sangat ditentukan oleh kemampuan manusia dalam usahanya men­capai tingkat aktualisasi diri. Menurut teori Maslow, ketika kebutuhan-kebutuhan dasar seorang individu telah terpenuhi, akan muncul kebutuhan yang lebih tinggi, yakni kebutuhan akan aktualisasi diri. Dengan kata lain, aktualisasi diri merupakan kebutuhan manusia yang paling tinggi dalam teori ini.Untuk mencapai aktualisasi diri, seseorang harus memuaskan kebutuhan yang lebih rendah yang terdapat pada berbagai tingkatan (Santrock, 2014: 166)

Berbeda dari kebutuhan-kebutuhan sebelumnya, yang didorong oleh kebutuhan-kebutuhan dasar, aktualisasi diri dimotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan yang bernilai tinggi, yang dikenal dengan istilah meta-motivationatau b-values (being values). Dijelaskan lebih lanjut oleh Maslow, dalam teorinya tentang hierarki kebutuhan, bahwa kebutuhan manusia didorong oleh dua bentuk motivasi, yakni motivasi kekurangan (deficiency motivation) dan motif pertumbuhan (growth motivation). Motif kekurangan ditujukan untuk mengatasi ketegangan-ketegangan organismik yang disebabkan oleh ke­kurangan, seperti lapar (kekurangan makan), haus (kurang minum), takut (kekurangan rasa aman) dan sebagainya.Selain itu, aktualisasi diri didorong oleh motif pertumbuhan yang juga diistilahkan dengan meta-motivation atau b-values. Berbeda dari kebutuhan dasar (basic-needs) yang bersifat hierarkis, motif pertumbuhan tidak bersifat demikian (Khadijah, 2015: 392).

Namun, sebagaimana basic needs, meta-motivation juga merupa­kan pembawaan manusia. Dalam titik ini, keduanya memiliki ke­samaan. Perbedaan mendasarnya ada pada akibat ketidakter­penuhan masing-masing motivasi. Apabila meta-motivation tidak terpenuhi atau terhambat,hal itu akan mengakibatkan metha­pathology. Meski demikian, dalam kondisi tertentu, orang yang tidak meng­aktuali­sasi­kan diri juga dapat didorong oleh b-values, utamanya ketika terdapat kondisi-kondisi tertentu yang memaksanya. Dalam kondisi demikian, seorang individu dapat menunda pemenuhan kebutuhan dasarnya (basic needs) dan termotivasi oleh b-values atau meta-motivation. Namun dalam situasi normal, hanya seorang individu yang meng­aktualisasikan dirilah yang didorong oleh b-values.

Meskipun manusia memiliki kapasitas untuk tumbuh dan ber­kembang secara sehat, namun tidak semuanya dapat mencapai tingkat aktualisasi diri, bahkan hanya sedikit orang yang dapat mencapainya. Hal ini disebabkan karena di dalam diri manusia itu terdapat dua kekuatan yang tarik-menarik. Kekuatan yang satu mengarah pada pertahanan diri, sehingga yang muncul adalah rasa takut salah, takut mengambil risiko, tergantung pada masa lalu, dan sebagainya. Sementara kekuatan yang lain mengarah pada keutuhan dan keunikan diri, serta mengarah kepada terwujudnya seluruh potensi yang ada dalam diri, sehingga yang muncul adalah kepercayaan diri dan penerimaan diri secara penuh.

Dalam proses pertumbuhannya, manusia dihadapkan pada dua pilihan bebas (free choices), yakni pilihan untuk maju (progressive choice) atau mundur (regressive choice), di mana masing-masing akan mengarahkan manusia menuju kemajuan atau kemunduran; seperti pilihan untuk pertumbuhan atau kemandegan, kemandirian atau ketergantungan, kematangan atau ketidakmatangan, kepercayaan atau sinisme, kebaikan atau kebencian, keramahan atau kemarahan, keadilan atau pelanggaran hukum dan lain sebagainya. Pilihan-pilihan di atas adalah ukuran yang akan menentukan arah perjalanan manusia, mendekat atau menjauh dari aktualisasi diri. Semakin banyak manusia menentukan pilihan pada pilihan maju,hal itu akan semakin mendekatkannya pada aktualisasi diri. Demikian pula sebalik­nya, jika seorang individu banyak menentukan pilihan pada pilihan mundur, hal itu akan semakin menjauhkannyadari aktualisasi diri. Dengan demikian, seorang akan dekat pada aktualisasi diri jika ia semakin sempurna yang disebabkan oleh pilihan maju mereka sendiri.

Maslow berpandangan bahwa untuk menuju pada aktualisasi diri dibutuhkan lingkungan yang baik. Dalam diri manusia, ada perasaan ke­raguan atau ketakutan pada pengembangan potensi pribadi atau kreativitas. Di balik kesenangan yang dirasakan ketika menemukan daya kreatif atau potensi yang ada dalam dirinya, terbersit pula perasaan takut.Misalnya, perasaan takut terhadap pekerjaan dan tugas yang harus dilakukan serta akibat yang harus dipertanggungjawabkan. Keberanian dan/atau ketakutan semacam ini, di samping dipengaruhi oleh ke­lemahan yang ada dalam dirinya, juga sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural yang ada di sekelilingnya. Sebagai contoh, kaum wanita cenderung menutupi kelebihan dan potensi yang dimilikinya karena pe­rasaan takut terhadap penolakan lingkungan sosialnya yang cen­derung menempatkan wanita dalam posisi subordinat (Khadijah, 2015: 394).

Kelompokpsikologi humanistik menyatakan bahwa aktualisasi diri dapat didefinisikan sebagai perkembangan yang paling tinggi dan penggunaan semua bakat perkembangan yang paling tinggi serta merupakan pemenuhan semua kualitas dan kapasitas manusia. Kalangan humanistik juga berpandangan bahwa selain dari lima kebutuhan di atas, kaitannya dengan aktualisasi diri, terdapat satu motivasi yang disebut meta-motivasi (meta-motivation).Secara kualitatif, keadaan batin yang sarat keyakinan seolah-olah melihat Allah di kala melaksanakan ibadah menjadi motivasi kuat untuk mencapai yang terbaik. Dorongan psikologis seperti inilah yang dalam gagasan Maslow disebut dengan meta-motivasi (Goble, 1991).

Bagi mereka, melihat-Nya bukan bayangan mengenai sesuatu yang fiktif dan maya, melainkan perasaan yang mendalam akan adanya Yang Maha Wujud yang mengawasi dengan aktif, dinamis, dan objektif seluruh gerak lahir dan batin dalam memenuhi hak-hak-Nya yang beragam.

Metamotivasi (meta-motivation) ini ada kaitannya dengan aktuali­sasi keberagamaan seseorang.Olehsebab itu, Maslow sendiri mengakui eksistensi agama. Dalam konsep meta-motivation, Abraham Maslow mem­bagi motivasi menjadi dua ruang lingkup, yaitu motivasi material dan motivasi spiritual. Peran agama yang lebih besar bermain di salah satu identitas diri, dimana semakin sulit akan faktor-faktor lain untuk menggagalkan pengaruh peran agama dalam kehidupan (Adam, 2013: 881).

Dalam teorinya, Maslow menempatkan konsep metamotivasi ini di luar kelima hierarcy of needs. Mystical atau peak experience adalah bagian dari meta-motivation yang menggambarkan pengalaman keagamaan. Pada kondisi ini, manusia merasakan adanya pengalaman keagamaan yang sangat mendalam. Selama pengalaman puncak ini, yang dianggap Maslow biasa terjadi di kalangan orang-orang sehat, diri dilampaui dan itu digenggam suatu perasaan kekuatan, kepercayaan dan kepastian, yaitu suatu perasaan yang mendalam bahwa tidak ada sesuatu yang tidak dapat diselesaikan. Pengalaman puncak transenden tersebut digambarkan sebagai sehat super-normal (normal super healthy) dan sehat super-super (super super healthy). Maslow menyebut­nya peakers (trancenders) dan nonpeakers (non-tran­cenders). Peakers bermakna memiliki pengalaman-pengalaman pun­cak yang memberikan wawasan yang jelas tentang diri mereka dan dunia mereka. Mereka cenderung menjadi mistis, puitis, dan saleh, lebih tanggap terhadap keindahan dan kemungkinan lebih besar menjadi pembaru-pembaru atau penemu-penemu (Enjang, 2008: 266).

Ada kesempatan-kesempatan dimana orang-orang yang meng­aktualisasikan diri mengalami ekstase, kebahagiaan, perasaan ter­pesona yang meluap-luap, suatu pengalaman keagamaan yang sangat mendalam. Selama pengalaman puncak ini, yang dianggap Maslow biasa terjadi di kalangan orang-orang sehat, diri dilampaui dan orang itu digenggam suatu perasaan kekuatan, kepercayaan dan kepastian, suatu perasaan yang mendalam bahwa tidak ada sesuatu yang tidak dapat diselesaikannya. Maslow berpendapat bahwa ada dua klasifikasi motivasi, motivasi primer dan motivasi spiritual (seperti: keadilan, kebaikan, keindahan, kesatuan, dan ketertiban). Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan fitri yang pemenuhannya tergantung pada kesempurnaan kepribadian dan kematangan individu. Pada dasarnya manusia mempunyai potensi baik dan buruk. Kepribadian manusia terbuka ketika manusia mengalami kematangan potensial dalam bentuk yang lebih jelas. Bila manusia menjadi fanatis atau bengis, hal itu disebabkan oleh pengaruh lingkungan, selain faktor internal. Lingkungan berperan aktif membantu manusia meng­aktualisasikan diri.

Para pakar psikologi modern tidak memberikan perhatian pada studi-studi dimensi spiritual manusia dan kebutuhan-kebutuhan pokok tingkat tinggi. Padahal kebutuhan ini mempunyai kedudukan terpenting dan tertinggi yang melebihkan manusia dari seluruh ciptaan Tuhan yang lain. Komitmen para pakar psikologi modern terhadap penerapan metode ilmiah dalam studi manusia mendorong mereka membatasi objek perhatiannya pada studi dimensi-dimensi tingkah laku manusia yang tunduk pada penelitian objektif dan eksperimentasi. Mereka pun kemudian menjauhi penelitian dimensi tingkah laku manusia yang berhubungan dengan masalah spiritual. Mereka mengenyampingkan studi ini secara total.

Perbedaan motivasi antara Barat dengan Islam adalah bahwa Islam disamping memberikan insentif material dan keuangan, juga menggunakan insentif spiritual. Efektivitas insentif spiritual ini terbukti lebih kuat daripada yang material. Hal ini terjadi karena Islam selalu menyentuh hati setiap muslim dan mendorongnya untuk menjaga kesadaran Islamnya (Wibisono, 2013: 239).

Dalam pandangan humanistik, manusia pada dasarnya memiliki potensi yang baik, minimal lebih banyak baiknya daripada buruknya. Pusat perhatian pandangan ini adalah sifat-sifat dan kemampuan khu­sus manusia yang terpatri pada eksistensi manusia, seperti ke­mampuan abstraksi, daya analisis dan sintesis, imajinasi, kreativitas, ke­bebasan ber­kehendak, tanggungjawab, aktualisasi diri, makna hidup, pe­ngembangan pribadi, humor, sikap etis dan estetika (Enjang, 2008: 266).

Logoterapi, sebuah corak pandangan yang dikelompokkan pada perspektif humanistik, mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai kesatuan raga-jiwa-ruhani yang tidak terpisahkan. Selain itu,logoterapi menganggap bahwa hasrat hidup bermakna adalah motivasi utama manusia.

  1. Carl R.Rogers

Rogers adalah seorang psikolog yang lahir di Oak Park, Illinois dan menjadi Professor psikologi di Universitas Chicago (Suryabrata, 2002: 253). Rogers menjadikan dunia pendidikan sebagai hal yang sentral. Hal ini dipengaruhi oleh dorongan gurunya semasa sekolah yang menginginkan Rogers menjadi individu yang utuh dengan membuka iklim kebebasan berpikir. Sosok individu yang utuh dan unik serta kebebasan berpikir inilah yang menjadi ruh dari humanisme dan liberalisme pendidikan (Cremers 1987: 93-94).

Rogers mengatakan bahwa tidak adaaliran psikologi yang domin­an, baik itu behavioral ataupun Freudian, yang dapat menjelaskan secara mencukupi mengapa orang bertindak dengan cara tertentu. Interpretasi humanistik tentang motivasi menekankan sumber-sumber intrinsik motivasi, seperti kebutuhan orang akan “self-actualization” (aktualisasi diri), actualizing tendency (kecenderungan beraktualisasi) yang dibawa sejak lahir atau kebutuhan akan “self determination” atau determinasi diri (Woolfolk, 2009, 190).

Teori Rogers memfokuskan diri pada kualitas yang membedakan manusia dengan hewan, yaitu pengarahan diri dan kebebasan memilih. Selain itu,teori Rogersjuga menekankan pada pengalaman-pengalaman internal dan subjektif yang merupakan makna ke­beradaan seseorang.Juga menekankan pada sifat dasar manusia yang positif, yaitu dorongan ke arah pertumbuhan dan aktualisasi diri (Atkinson, dkk., 1999: 169).

Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa teori Rogers lebih fokus pada masalah pendidikan. Karena itulah, kemunculan humanis­me pendidikan itu sendiri merupakan kritik atas model pendidikan konvensional yang dinilai tidak humanis, karena peserta didik tak lebih hanya sebagai objek dari proses pendidikan. Komunikasi antara pendidik dan peserta didik hanya berjalan searah, dalam artian bahwa siswa ‘dipaksa’ mentah-mentah menelan informasi yang datang dari guru. Berangkat dari ketidaksetujuan inilah, Rogers memunculkan model pendidikan humanistik yang memosisikan peserta didik sebagai pusat dari proses pendidikan (person-oriented). Dalam model pendidikan ini, murid memiliki kekuasaan dan kontrol atas diri mereka sendiri. Murid juga memiliki otoritas penuh dalam proses pengambilan keputusan serta dapat menentukan tujuan pen­didikannya sendiri dengan kreatif.

Dalam pandangan humanistik terhadap fungsi manusia adalah menerima individu apa adanya, menghormati perasaan dan aspirasi­nya, serta berpegang pada konsep bahwa setiap person mempunyai hak untuk menentukan diri sendiri. Carl Rogers berpendapat bahwa anak-anak yang belajar menerima dirinya sendiri dapat berkembang menjadi individu-individu yang berfungsi penuh dan mampu benar-benar mencintai orang lain (Friedman, 2006: 145).

Berangkat dari keyakinan inilah, pendidikan humanistik mem­berikan kebebasan kepada murid untuk membuat berbagai pilihan. Model pendidikan humanistik tidak hanya memberikan perhatian terhadap keragaman individual murid, tetapi juga disertai dengan penghargaan dan keobjektifitasan.Materi pelajaran difokuskan pada problem solving dan creativity (Lefrancois, 1991: 147).

Oleh karena itu, sekolah merupakan tempat belajar yang me­nyenangkan, demikian juga dengan tugas seorang guru yang semula sebagai tenaga pengajar, bergeser menjadi fasilitator. Siswa bebas belajar sesuai dengan keinginan dan harapan mereka.Siswa juga dapat mengkritik guru tanpa merendahkan dan melakukan penghinaan (Rogers, 1983: 26).

Tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan, hal itu sangat di­pengaruhi oleh sikap antara guru dan murid. Dalam pendidikan humanistik, setidaknya ada tiga sikap belajar yang memudahkan belajar, yaitu:pertama,kesebenaran guru dalam memfasilitasi pem­belajaran (realness in the facilitator of learning). Mungkin inilah sikap yang paling esensial. Ketika seorang guru menjadi seorang pribadi yang sebenarnya dan menjalin hubungan dengan peserta didik tanpa ada sekat, sikap yang demikian ini akan menjadi lebih efektif bagi seorang guru.

Kedua, penghargaan, penerimaan, kepercayaan (prizing, accep­tance, trust). Penghargaan terhadap peserta didik, menghargai perasaan, pendapat dan pribadinya merupakan dasar tumbuhnya kesuksesan dalam belajar.Penghargaan ini merupakan bentuk perhatian terhadap peserta didik sebagai bentuk penerimaan terhadap individu pribadi yang terpisah, yang mempunyai penghargaan dan hak-hak pribadi. Ini merupakan sebuah dasar kepercayaan (peng­hargaan terhadap peserta didik bahwa ia merupakan pribadi yang sempurna).

Ketiga, pemahaman yang disertai empati (emphatic under­standing). Ketika seorang guru dapat memahami sikap-sikap murid­nya dari dalam, serta mempunyai kesensitifan terhadap proses belajar, maka signifikansi belajar akan bertambah karena murid merasa dihargai.

Konsep pendidikan humanistic Rogers pada mulanya tidak menempatkan diri dengan merumuskan sejumlah teknik pendidikan. Tujuanutamanya adalah bahwa individu dapat berkembang menjadi manusia yang utuh, berfungsi penuh dan dihargai sebagai person. Selain itu, pendidikan humanis juga bertujuan meningkatkan ke­sehatan emosional dan kesejahteraan psikis di tengah kebudayaan modern yang menyebabkan pengasingan dan kekaburan identitas. Tujuan ini akan tercapai bila pendidikan memerhatikan potensi-potensi asli dari individu sebagai pribadi yang unik. Sebaliknya, pendidikan akan gagal jika hanya berorientasi pada tugas objektif yang dibeda-bedakan menurut jenis kerja. Sebab, semua itu tidak meng­antarkan pada perkembangan kreativitas tujuan individu.

Dasar pendidikan humanistik adalah mengakui kebutuhan setiap individu akan harga diri dan menemukan kemungkinan-kemungkinan dan keterbatasan unik dari setiap anak, serta meningkatkan kebebasan serta aktivitas setiap pribadi untuk mengembangkan kemampuan sendiri. Pengakuan atas keutuhan individu dalam model pendidikan humanistik tersebut juga disebutkan oleh Guy R. Lefrancois, dalam bukunya Psychology for Teaching.

Dari konsep pendidikan humanistik yang memberikan perhatian terhadap perkembangan dan kebebasan person, self concept, self actualization inilah yang mampu memunculkan iklim kebebasan belajar yang bertanggung jawab (responsible learning freedom) atau yang lebih dikenal dengan liberalisme pendidikan.Karena dalam konsep ini, setiap individu bebas menentukan pilihan dan mengarahkan diri serta bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

  1. Implikasi Teori Humanistik bagi
    Psikologi Transpersonal

Psikologi transpersonal merupakan aliran baru pengembangan dari psikologi humanistik yang menolak teori dan metode psikologi yang datang sebelumnya, yaitu psikoanalisis dan behaviorisme. Sebagaimana psikologi humanistik, aliran ini secara mendasar berusaha meneguhkan dan mengembangkan potensi manusia (human potential). Hanya saja aliran ini menjangkau hal-hal yang bersifat adi-kodrati dan spiritual yang bertentangan dengan banyak pandangan psikologi sebelumnya. Karena aliran ini merupakan pengembangan dari psikologi humanistik, maka tema utama yang senantiasa muncul dalam aliran ini adalah perwujudan kemampuan manusia, di samping hal-hal lain yang bersifat spiritual. Dalam perkembangannya, aliran ini memiliki varian yang cukup beragam. Hal ini terlihat dalam berbagai konsep yang dikemukakan oleh para tokohnya. Untuk memilah para tokoh psikologi transpersonal, dengan beragam teori yang dikembang­kannya bukanlah persoalan sederhana. Hal tersebut dikarenakan tokoh-tokoh psikologi aliran ini telah berkembang dengan beragam disiplin yang ditekuninya sehingga menghasilkan metode yang beragam pula.

Jika dikaji lebih lanjut, konsep Allport tentang dua pola keber­agamaan tersebut memiliki kemiripan dengan dua aspek keber­agamaan yang sangat mendominasi dalam Islam, yaitu syariah dan tasawuf. Pola keberagamaan ekstrinsik sangat dekat dengan pola keberagamaan berbasis syariah di mana pola ini merupakan aspek eksoteris (luar) yang sangat menekankan pada kulit daripada isi. Pola inisangat mengedepankan fiqih yang cenderung menilai sesuatu secara hitam-putih. Di sisi lain, pola keberagamaan intrinsik sangat relevan dengan konsep tasawuf yang merupakan aspek esoteris (dalam) Islam. Berbeda dari syariah yang cenderung menekankan aspek lahiriah, tasawuf sangat menekankan aspek isi jiwa dan ruh. Dalam tasawuf, kebenaran mutlak merupakan milik Allah dan Dia adalah Zat Yang Maha Kuasa dalam menentukan kebenaran itu. Berbagai konsep yang digagas oleh tokoh-tokoh psikologi humanis di atas dapat dijadikan landasan bagi terciptanya sebuah pendekatan baru dalam dunia psikologi spiritual. Psikologi spiritual tentu memiliki makna yang luas di mana ia mencakup, dan berhak dimiliki oleh semua agama. Namun, penulis cenderung menarik psikologi spiritual ke dalam makna yang lebih khusus, yaitu psikologi tasawuf. Hal ini didasarkan pada argumen sederhana bahwa konsep-konsep psikologi transpersonal di atas dapat dielaborasi dengan nilai-nilai yang terdapat dalam dunia tasawuf.

Sebagai salah satu disiplin keagamaan dalam Islam, tasawuf merupakan bidang yang oleh sementara kalangan dianggap berada pada wilayah yang berbeda dari ilmu pengetahuan pada umumnya. Hal tersebut disebabkan karena sebagai disiplin keagamaan, tasawuf lebih bersifat adikodrati sehingga hanya mungkin didekati dengan pendekatan spiritual. Sifatnya yang adikodrati itulah yang menjauh­kannya dari disiplin ilmiah yang bersifat empiris. Bahkan di kalangan sebagian agamawan, ada anggapan bahwa ilmu pengetahuan pada umumnya merupakan ancaman terhadap dogma agama. Sebaliknya, sebagian para ilmuan juga memandang agama sebagai penyebab kemandekan ilmu pengetahuan. Dalam pandangan tasawuf, jika manusia ingin meraih derajat keparipurnaan (insân kâmil) atau dalam ungkapan lain yang disebut ma’rifat (pengetahuan ketuhanan) di mana dimensi ketuhanan (ulûhîyah) teraktualisasikan secara penuh, manusia harus melalui proses latihan spiritualitas yang disebut takhallî atau zero mind process (mengosongkan diri dari segala keburukan atau kejahatan), tahallî atau character building (menghiasi diri dengan perilaku baik) dan tajallî atau God spot (kondisi di mana kualitas ketuhanan teraktualisasi atau termanifestasikan).

Konsep tersebut sejalan dengan firman Allah yang menyatakan: “Maka Aku ilhamkan (dalam diri manusia) potensi kejahatannya dan kebaikannya. Sungguh beruntung orang-orang yang menyucikannya dan sungguh celaka orang-orang yang mengotorinya” (QS. al-Syams [91]: 8-10). Dengan kata lain, jika manusia menginginkan aktualisasi diri, ia harus senantiasa memilih potensi kebaikan yang ada dalam dirinya dan menghindarkan diri sejauh mungkin dari potensi kejahat­an. Jika pilihan-pilihan baik ini dapat secara konsisten dilakukan, ia akan semakin mendekati derajat kesempurnaan. Begitu pula sebaliknya, jika ia selalu memilih kejahatan, ia akan semakin jauh dari kesempurnaan. Peristiwa dalam bingkai (frame) tasawuf di atas sesungguhnya tidak jauh dari pandangan psikologi transpersonal yang juga mengungkapkan konsep yang kurang lebih sama (Khadijah, 2015: 401).

Kecenderungan untuk meraih kesempurnaan atau aktualisasi diri itulah yang disebut Maslow sebagai motivasi pertumbuhan (growth motivation), di mana manusia secara konsisten menentukan pilihan baik (progressive choice). Sementara kecenderungan untuk menentu­kan pilihan buruk disebut motivasi kemunduran (deficiency motivation), di mana seseorang senantiasa menentukan pilihan mundur (regressive choice) yang berarti semakin menjauhkannya dari aktualisasi diri (self-actualization).

Menurut penulis, hal ini menarik untuk dikaji lebih jauh. Bagi seorang sâlik (orang yang menempuh jalan tasawuf), pencapaian derajat tertinggi dalam maqâmat yang dilaluinya adalah berada dekat dengan Allah Sang Maha Kasih, dan itulah yang menjadi tujuan akhir. Dalam disiplin psikologi transpersonal, individu yang berhasil menemukan nilai spiritualitas berarti telah berhasil pula dalam process of becoming-nya. Dengan demikian, ia menjadi individu paripurna (insân kâmil). Pada titik ini, psikologi transpersonal memiliki titik temu dengan tasawuf. Pencapaian derajat spiritualitas manusia sangat bergantung pada upaya manusia mempertahankan identitas (ke­luhuran dan kesempurnaan) yang dimiliki dengan mengarah pada tujuan jangka panjang secara konsisten. Dalam hal ini, para psikolog humanistik pada umumnya sepakat bahwa manusia dalam meraih keluhuran pribadinya sangat dipengaruhi oleh motivasi dan faktor-faktor eksternal yang melingkupinya, termasuk agama. Sebagai makhluk yang memiliki potensi kebaikan, ia harus mampu mengalah­kan kekuatan-kekuatan negatif dan menolak segala tekanan budaya destruktif yang memengaruhinya. Lebih jauh, manusia harus mampu menyadap sumber kekuatan pribadi dan berusaha mengaturnya sesuai dengan prinsip kebaikan yang dipilihnya.

Psikologi transpersonal dan tasawuf dapat dijadikan sebagai media memaksimalkan potensi kebaikan yang dimiliki oleh setiap manusia dan pada saat yang sama keduanya dijadikan sebagai perisai yang bisa melindungi manusia dari hal-hal negatif yang bisa merusak jiwa dan nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai ilustrasi, dalam disiplin psikologi transpersonal, dikenal konsep religious experience yang menekankan pentingnya pemahaman keagamaan yang komprehensif, di mana aspek pengalaman luar keagamaan seharusnya ditransfor­masikan ke dalam aspek spiritualitas untuk memperkaya nilai-nilai kejiwaan. Selanjutnya, nilai-nilai tersebut dimanifestasikan lagi dalam bentuk perbuatan individu yang mencerminkan kesalehan sosial. Hal yang sama juga berlaku dalam dunia tasawuf, di mana seorang sâlik, selain mengamalkan aspek eksoteris ajaran Islam, juga menekankan aspek esoteris, yaitu spiritualitas, untuk menemukan al-Haqq. Pengalaman keagamaan dalam pencarian spiritual tersebut kemudian dimple­men­tas­ikan oleh seorang sâlik dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, pengalaman keagamaan semacam ini akan menciptakan pemahaman agama yang inklusif dan penuh penghayatan (Khadijah, 2015: 398).

Dengan kata lain, pengalaman keagamaan yang diinginkan oleh psikologi transpersonal dan tasawuf adalah pengalaman yang tidak dilakukan hanya atas dasar formalitas dan rutinitas belaka. Model pengalaman keagamaan yang jauh dari formalitas dan rutinitas akan semakin mendekatkan seorang penganut agama dengan nilai substansial dari tuntutan agamanya itu. Sebagaimana diketahui, dimensi ketuhanan (al-rûh al-illahîyah) merupakan sumber kekuatan pribadi manusia. Jika seseorang konsisten untuk mengaktualisasi asma Allah atau dengan kata lain al-takhalluq bi asmâ’ Allâh (mengambil nama-nama Allah sebagai sumber inspirasi segala perilakunya), ia akan meraih kesempurnaan yang didambakan. Takhalluq, menurut Ibn ‘Arabî, adalah jalan spiritual menuju Allah yang melahirkan akhlak mulia sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan takhalluq berarti mengukuhkan pandangannya bahwa tidak ada suatu realitaspun yang wujud kecuali Allah, nama-nama-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dalam tradisi tasawuf, banyak teori yang menyebut karakter-karakter keluhuran yang seharusnya dimiliki oleh manusia. Karakter-karakter tersebut tergambar dalam konsep-konsep sufistik seperti, maqâmât (stations), ahwâl (states), ittihâd (unity), wahdat al-wujûd (kesatuan wujud), wahdat al-shuhûd (kesatuan penyaksian), wahdat al-adyân (kesatuan agama-agama), dan lain-lain (Khadijah, 2015: 399).

Menurut hemat penulis, konsep-konsep sufistik tersebut memiliki titik relevansi dengan konsep process of becoming dalam disiplin psikologi transpersonal. Sebagai contoh, maqâmât dalam tasawuf pada dasarnya merupakan rangkaian proses yang harus dijalani oleh seorang sâlik dalam perjalanan spiritualnya menuju Allah. Keberhasil­an seorang sâlik dalam menjalani proses-proses tersebut pada akhirnya akan menjadikannya sebagai individu yang menjadi; individu yang paripurna, karena dia telah menjadi kekasih dari Sang Maha Kasih. Dalam konsep maqâmât juga terkandung banyak karakter luhur yang dijadikan syarat bagi seseorang yang menapaki pendakian spiritual.

Karakter-karakter tersebut antara lain tawbah, shabr, zuhd, wara’, tawakkal, dan ridâ. Tawbah berarti semangat untuk melakukan perubahan menuju yang lebih baik dan meninggalkan perilaku kejahatan yang dilakukan. Shabr memiliki makna semangat tinggi dengan penuh ketegaran untuk menghadapi segala rintangan yang menghadang. Wara’ menghindari perilaku atau tindakan yang tidak berguna. Zuhd bermakna independensi diri untuk tidak terbelenggu dengan gemerlapnya duniawi. Tawakkalberarti sikap berani meng­hadapi risiko yang ditimbulkan oleh perilaku yang diputuskan­nya. Sedangkan ridâ berarti kerelaan diri untuk menerima hasil apapun yang diperoleh dari usaha yang telah dilakukan secara maksimal dengan penuh suka cita. Di sisi lain, konsep-konsep tasawuf falsafî seperti, ittihâd, wahdat al-wujûd, wahdat al-shuhûd, dan tajallî dalam konteks takhalluq mengimplikasikan sikap kesempurnaan, perasaan menyatu dengan alam, kesetaraan, keadilan, keindahan, keutuhan, keserasian, kesederhanaan dan sifat-sifat kebaikan lainnya.

Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat bahwa terdapat titik temu antara psikologi transpersonal dan tasawuf. Dua entitas ini bahkan memungkinkan untuk saling bekerjasama. Lebih dari itu, dengan mengkaji karya-karya psikologi transpersonal, sebagai disiplin ilmu non-agama, serta mendialogkannya dengan karya-karya tasawuf, maka hal itu akan dapat menghilangkan dikotomi antara keduanya. Alasannya adalah bahwa doktrin-doktrin keagamaan (tasawuf), yang penuh dengan nilai-nilai keluhuran dan keutamaan, selama ini dituduh sebagai sesuatu yang bersifat elitis dan cenderung melangit (untouchable) sehingga sulit untuk diterima secara rasional. Oleh karenanya, tanpa usaha-usaha mendialogkannya dengan disiplin ilmu lainnya, bisa jadi tasawuf akan semakin ditinggalkan disebabkan karakternya tersebut (Khadijah, 2015: 400).

Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa terdapat kesamaan dan titik temu antara aspek kebatinan dunia Barat–dalam perspektif psikologi transpersonal–dan aspek tasawuf dalam Islam. Titik temu keduanya ada pada fakta bahwa masing-masing memokuskan usaha mengolah dan meningkatkan potensi keruhanian (spiritualitas) manusia. Hal ini sejalan dengan pemikiran bahwa ilmu tentang ruh adalah semata-mata urusan Tuhan, sedangkan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentang hal itu, sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Isrâ‘ [17]: 85. Namun demikian, bagaimana mengembangkan dan meningkatkan potensi ruh yang sedikit itu, agar senantiasa tertambat dan dekat dengan Tuhan, sebagian besar merupakan urusan manusia. Pada titik ini pula psikologi transpersonal dan tasawuf bisa didialogkan sebagai salah satu usaha manusia untuk menemukan Tuhan. Adanya titik temu antara psikologi transpersonal dan tasawuf, menurut hemat penulis, bisa menjadi sebuah pendekatan baru dalam dunia psiko-sufistik. Meskipun begitu, ada hal penting yang perlu digarisbawahi, yaitu kenyataan bahwa masing-masing dari dua disiplin tersebut berangkat dan berpijak pada sumber yang berbeda. Jika tasawuf berpijak pada wahyu (al-Qur‘ân), hadîth-hadîth dan ajaran Nabi Muhammad dan para sahabatnya, psikologi transpersonal adalah human-made knowledge yang didasari oleh pengamatan dan penelitian empiris dan ilmiah-akademis. Akan tetapi, perbedaan ini tidak lantas menjadikan keduanya berlawanan. Sebaliknya, dalam dunia modern ini psikologi transpersonal bisa membantu tasawuf dalam usaha memberikan pencerahan spiritual bagi manusia modern yang cenderung mengedepankan rasionalitas dan kritik serta membutuhkan penjelasan-penjelasan ilmiah-empiris. Rasionalitas, kritik, dan kebutuhan akan penjelasan-penjelasan ilmiah-empiris pada diri manusia modern akan bisa terjawab dengan baik oleh psikologi transpersonal. Sebaliknya, tasawuf bisa meneguhkan posisi psikologi transpersonal guna mengatasi problem spiritualitas manusia modern (Khadijah, 2015: 401).

Nilai-nilai tasawuf bisa dijadikan sebagai penyembuhan penyakit, baik psikis maupunfisik, karena tasawuf merupakan bagian dari Islam, yang muaranya pada pendekatan diri kepada Allah Swt. Spiritual Islam dalam tasawuf yang menjadi dasar tulisan ini adalah adanya maqāmat dan ahwāl, yang ditekankan pada proses pencapaiannya, yang salah satunya dengan berdzikir. Jalan untuk sampai kepada Allah sangat berkaitan dengan maqām-maqām dalam hati, seperti taubat, wara’, zuhud, sabar, qana’ah, tawakkal, ridhā, mahabbah, dan marifah, serta berkaitan dengan sifat-sifat terpuji seperti shiddīq, ikhlās, khawf, dan rajā’. Semua itu sudah diajarkan oleh Rasulullah secara langsung kepada para sahabat, dan dalam tasawuf dikenal dengan istilah maqāmāt dan ahwāl. Adapun beberapa maqāmat yang dapat dinilai sebagai metode terapi antara lain sebagai berikut:

Pertama, taubat. Taubat berarti ar-ruju min adz-dzanbi, kembali dari berbuat dosa menuju kebaikan atau meninggalkan dosa. Lebih lanjut, taubat itu merupakan salah satu kunci dalam pengobatan jiwa, bahkan dapat dikatakan sebagai media pengobatan yang paling penting dalam rangka membersihkan jiwa dan hati, serta dapat mengembangkan rasa cita-cita di dalamnya, setelah dihancurkan oleh gejolak dan kerancuan, atau setelah dipotong oleh keputusasaan.

Kedua, wara’.Wara’ adalah meninggalkan setiap yang syubhat dan meninggalkan setiap hal yang tidak berguna, atau meninggalkan barang yang melebihi kebutuhan. Al-Muhasibi menjelaskan bahwa wara’ adalah menghisab setiap hal yang dibenci oleh Allah, baik tindakan fisik, hati, atau anggota badan, dan menjauhi dari menyia-nyiakan sesuatu yang diwajibkan oleh Allah, baik dalam hati maupun anggota badan, dan hal ini hanya akan dapat dilakukan dengan muhasabah. Dengan demikian, wara’ adalah menyucikan hati dan berbagai anggota badan.

Ketiga, zuhud. Al-Ghazali menyatakan bahwa zuhud secara keseluruhan berarti benci kepada yang disukai dan berpaling kepada yang lebih disukai. Orang tidak menginginkan sesuatu selain Allah hingga surgapun diabaikannya.Mentalitas zuhud dapat dijadikan sebagai sarana untuk penyembuhan bagi penyakit jiwa. Penyakit jiwa yang dimaksud tentu saja penyakit jiwa yang disebabkan oleh materi, atau upaya pencarian materi, sehingga melupakan segalanya, bahkan dirinya sendiri. Berbicara tentang arti zuhud secara terminologis menurut Amin Syukur, tidak bisa dilepaskan dari dua hal: (1) zuhud sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tasawuf;(2) zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes, yaitu sikap hidup yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim dalam menatap dunia fana ini. Dunia dipandang sebagai sarana ibadah dan untuk meraih keridhaan Allah, bukan tujuan hidup,dan disadari bahwa mencintai dunia akan membawa sifat-sifat mazmumah (tercela). Jadi zuhud diartikan sebagai sikap mental untuk menjauhkan diri dari kehidupan di dunia demi akhirat, yakni menyeimbangkan antara aspek-aspek lahiriah dan batiniah, jasmaniah dan ruhaniah.

Keempat, sabar. Sabar menurut Dzunnun al-Mishry adalah menjauhkan diri dari segala sesuatu yang bertentangan dengan syariat, tenang saat ditimpa musibah, dan menampakkan kecukupan ketika dalam kefakiran. Sabar dapat dijadikan sebagai sarana penyembuhan yang ampuh. Ketika mendapat ujian berupa sakit, seseorang dapat menggunakan kesabarannya dalam menahan serangan rasa sakit dengan mengembalikannya kepada Allah. Sabar atas segala keputusan-Nya, sehingga rasa sakit justru menjadi saranauntuk mendekatkan diri kepada Allah dan memahami betapa besar kekuasaannya.

Kelima, qana’ah. Qana’ah adalah menerimanya hati terhadap apa yang ada, meskipun sedikit, yang disertai dengan sikap aktif atau berusaha. Ia adalah perbendaharan yang tidak akan sirna. Sikap ini cukup efektif untuk melakukan terapi diri dan atau orang lain dari penyakit psikis yang sering membawa dampak negatif terhadap kesehatan pisik, karena dari dalam diri seseorang muncul sikap menerima kenyataan, baik ketika sakit maupun sehat, ketika dalam kondisi kaya maupun miskin.

Keenam, ridha. Ridha (ridhā) secara etimologis berarti rela, tidak marah. Menurut al-Hujwiri, ridha terbagi menjadi dua, yaitu ridha Allah terhadap hamba-Nya, dan ridha hamba terhadap Allah Swt. Ridha Allah terhadap hamba-Nya adalah dengan dengan cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah-Nya, sedangkan ri­dha hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan tunduk atas segala hukum-Nya. Kaitannya dengan masalah sakit dan kesembuhan, terlihat jelas bahwa ridha menjadi salah satu sarana penenang jiwa atas segala keputusan Allah. Seringkali penyakit menjadi bertambah parah, akibat hilangnya kerelaan hati menerima keadaan, sehingga hati menjadi kotor dan pikiran kalut, yang pada gilirannya penyakit kian bercokol.

Ketujuh, ikhlas. Ikhlas berarti murni, bersih dan terbebas dari tujuan selain Allah. Erbe Sentanu, dalam buku Quantum Ikhlas, mengartikan istilah ikhlas dengan ketrampilan (skill) penyerahan diri total kepada Tuhan untuk meraih puncak sukses dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Rela karena semua yang kita lakukan selalu untuk keperluan yang lebih tinggi, lebih besar, dan lebih mulia. Jujurkarena apa pun yang kita lakukan atau tidak kita lakukan adalah memang pilihan kita. Semua itu akan mengubah gelombang energinya menjadi doa yang kita persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kedelapan, tawakal. Tawakal merupakan gambaran keteguhan hati dalam menggantungkan diri kepada Allah. Bertawakal adalah bahwa seorang hamba melepaskan diri dari daya dan kekuatan dan bertumpu kepada pemilik daya dan kekuatan tersebut (Allah Swt) seraya mengetahui bahwa menjalani hukum sebab-akibat tidak menafikan tawakal. Dalam kaitannya dengan menghadapi penyakit, tawakal adalah kunci mencapai kesembuhan. Obat apapun yang diinjeksikan ke dalam tubuh tidak akan bermanfaat manakala dalam hati seseorang tidak ada rasa tawakal dan ridha.

Dari penjelasan di atas, konsepsi maqāmāt dalam tradisi tasawuf sangat dekat dengan konsepsi psikologi humanistik Abraham Maslow dengan tiga teorinya tentang “kebutuhan dasar manusia” (basic needs), aktualisasi diri, dan pencapaian pengalaman puncak. Seseorang yang mengaktualisasikan diri tidak lagi dibelenggu oleh kebutuhan-kebutuhan duniawi, yang ada hayalah kebutuhan untuk mencapai “kebenaran” atau dalam bahasa agama disebut “Tuhan”. Aktualisasi diri adalah wujud perkembangan dan penemuan jati diri dan mekarnya potensi yang ada atau yang terpendam. Orang yang teraktualisasikan dirinya tidak akan lagi tertekan oleh perasaan cemas, perasaan risau, tidak aman, tidak terlindungi. Mereka adalah manusia yang telah terbebas dari metamotivasi. Dalam pandangan Abraham Maslow, orang yang mengaktualisasikan dirinya tidak lagi membeda­kan secara dikotomis antara baik dan buruk. Karena mereka akan dengan konsisten memilih nilai-nilai luhur, dan dengan mudah mereka melakukannya.Dikotomi antara baik dan buruk hanyalah berlaku bagi mereka yang tidak konsisten dengan dirinya sendiri (Pradityas, Hanafi, Zaduqisti, 2015: 197-201).

  1. Kelebihandan Kekurangan Teori Humanistik

Model pendidikan Rogers menjadi populer disebabkan karena Rogers mengembangkan pendidikan humanis, yakni memosisikan murid sebagai pusat subjek dalam menentukan model dan tujuan pendidikan. Karena pendekatan ‘memanusiakan’ murid itulah teori pendidikan Rogers menjadi teori paling berpengaruh ketika ke­muncul­annya. Upaya ‘memanusiakan’ murid tersebut dapat dilihat dari langkah yang mengutamakan pengalaman subjektif, khususnya perasaan-perasaan pribadi murid. Rogers telah memberikan kontri­busi besar bagi dunia pendidikan karena dapat memperbaiki sikap guru untuk menjadi orang yang peduli, dapat berkomunikasi secara efektif dan terbuka, dapat menumbuhkan rasa empati dan menghargai murid dan orang lain.

Namun demikian, tidak ada yang sempurna dalam sebuah teori, begitu juga dengan psikologi humanistikRogers ini. Kelemahan teori Rogers adalah terlalu menghormati individu dan menyenangkan murid, sehingga landasan konsepnya kurang tajam.Seorang guru atau fasilitator cukup berbekal ketrampilan yang baik dan kemampuan berkomunikasi, empatis yang spontan, sementara pengetahuan dan teori yang spesialis tidak begitu diperlukan.

Jika Rogers beranggapan bahwa anak didik bebas dalam me­nentukan kurikulum, prosedur dan pembagian tugasnya sendiri, sesuai dengan keinginan dan pilihannya, dan tidak membutuhkan bimbingan dari guru serta guru tidak memberikan komentar atau arahan kecuali jika diminta, maka tujuan pendidikan yang jelas dan terarah tidak akan tercapai. Sebaliknya, yang terjadi justru kekaburan, keabstrakan dan terjadi tumpang tindih.Hal ini disebabkan karena murid dibebaskan bertindak sesuai dengan kehendaknya, sementara guru hanya mengiyakan. Sikap ‘pembiaran’ dari seorang guru tersebut pada perkembangannya akan berakibat pada kebingungan dan ketidakpastian pada diri murid. Karena bagaimanapun juga, murid membutuhkan bimbingan dan pengarahan.

Selain pandangan Rogers yang menitikberatka pada dunia pen­didikan, gagasan bahwa kebutuhan manusia diatur secara hierarkis merupakan hal yang menarik, tetapi tidak semua orang setuju denganurutan motif Maslow. Mungkin ada beberapa orang yang lebih mengedepankan kebutuhan kognitif daripada kebutuhan peng­hargaan. Ada juga beberapa orang yang mendahulukan kebutuhan kognitif walaupun kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki belum terpenuhi (Santrock, 2014: 167).

Namun yang menarik, psikologi humanistik yang dipelopori Abraham H. Maslow dan Carl R. Rogers ini mengakui eksistensi agama. Maslow sendiri dalam teorinya mengemukakan konsep meta­motivation yang di luar kelima hierarchy of needs.Mystical atau peak experience adalah bagian dari metamotivation yang meng­gambarkan pengalaman keagamaan.Pada kondisi ini, manusia merasakan pengalaman agama yang sangat mendalam. Pribadi (self) lepas dari realitas fisik dan menyatu dengan kekuatan transendental (self is lost and transcended ). Di mata Maslow, level ini adalah bagian dari kesempurnaan manusia.Tetapi, yang janggal dalam teori humanistik adalah karena pandangannya yang terlalu optimistik terhadap upaya pengembangan sumber daya manusia, sehingga manusia dipandang sebagai penentu tunggal yang mampu melakukan play-God (peran Tuhan). Aliran ini sangat menghargai keunikan pribadi, kebebasan, tanggung jawab dan aktualisasi diri pada setiap individu.

Allah berfirman yang berbunyi:

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنتَهَىٰ ﴿٤٢﴾

“Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu) (QS. An Najm: 42)”.

Manusia dengan akal dan potensi lain yang dimilikinya diberi daya ikhtiar (free will), yaitu kebebasan untuk memilih dalam mendaya­gunakan potensi ilham: taqwa dan fujur (QS. al-Syams [91]:7-10). Akan tetapi, terhadap pilihannya itu diberikan konsekuensi, yaitu pahala bagi yang menggunakan ilham taqwa dan siksa bagi pengguna ilham fujur (QS.13:11).

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, pada umumnya psikologi Barat yang berangkat dari bentuk rasionalistik, saintifik, dan bebas nilai itu bertentangan dengan Islam. Namun, psikologi humanistik ini menjadi sebuah pengecualian, karena teori yang dikembangkannya memiliki tingkat kesesuaian dengan ajaran islam. Hal ini bisa dilihat dari pembahasan di atas, di mana antara psikologi humanistik dengan islam memiliki keterkaitan, terutama dengan aspek spiritualitas dan tasawuf. Dengan demikian, psikologi humanistik inilah yang bisa didekati dengan nilai-nilai islam, meskipun harus dengan kritik tertentu terhadap teori tersebut.

Dengan demikian, Islam dengan psikologi bisa memecahkan masalah umat terutama terkait dengan masalah kepribadian dan keruhaniahan, yang pada dasarnya sangat dipentingkan dalam ajaran Islam, yakni salah satunya dengan menggunakan pendekatan humanistik ini.[]

Daftar Pustaka

Ancok, Djamaluddin dkk. (2011). Psikologi islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arends, Richard I. (2008). Learning to teach, Belajar untuk mengajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Atkinson, Rita L. dkk. (1999). Pengantar psikologi, Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Bahana, Adam, La Ode. (2013). Peran motivasi spiritual agamis terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) dan kinerja dosen: studi pada dosen Universitas Haluoleo Kendari. Jurnal Aplikasi Manajemen, 10(4), 890.

Baidan, Nashruddin. (2011). Wawasan baru ilmu tafsir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Benson, Nigel C. dkk. (2000). Psikologi for beginners. Terj. Medina Chodijah. Bandung: Mizan.

Cremers, Agus. (1987). Antara engkau dan aku. Jakarta: Gramedia

Enjang, A. S. (2015). Dakwah smart: Proses dakwah sesuai dengan aspek psikologis mad’u. Jurnal Ilmu Dakwah, 4(12), 257-288.

Friedman, Howard S. (2006). Kepribadian teori klasik dan riset modern, edisi ketiga, jilid 2. Jakarta: Erlangga

Graham, Helen. (2005). Psikologi humanistic dalam konteks social, budaya, dan sejarah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Goble, Frank G. (1991). Mazhab ketiga psikologi humanistik Abraham Maslow, terj. A. Supratiknya, Yogyakarta: Kanisius.

Guy. R. Lefrancois. (1991). Psychology for teaching, seventh edition, California: Wadsworth.

Hadori, Mohamat. (2015). Aktualisasi-diri (self-actualization); Sebuah manifestasi puncak potensi individu berkepribadian sehat (Se­buah konsep teori dinamika-holistik Abraham Maslow).” Lisan al-Hal: Jurnal Pengembangan Pemikiran dan Kebudayaan, 7(2), 207-220.

Hurlock, Elizabeth B. (1974). Personality development. New Delhi: McGraw Hill

Ibrahim, Muhammad Ismail. (1986). Sisi mulia al-Qur’an: Agama dan ilmu. Jakarta: Rajawali.

Khadijah. (2015). Titik temu transpersonal psychology dan tasawuf. Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, 4(2), 382-403.

Losey, Meg Blackburn. (2007). The children of now. USA: Career Press, New Page Books.

  1. Yusuf, Kadar. (2013). Tafsir tarbawi, pesan-pesan alQuran tentang pendidikan. Jakarta: Amzah

Majid bin Aziz Al Zindani, Abdul. (1997). Mukjizat a-Quran dan a-Sunnah tentang Iptek. Jakarta: Gema Insani Press.

Margaret E Gredler. (2001). Learning and instruction: Theory into practice,4th ed. Ohio: Merrill Prentice Hall

Musthofa, Adib Bisri dkk. (1992). Terjemahan kitab Muwaththa’ al-Imam Malik r.a. Semarang: CV Asy Syifa’

Nizhan, Abu. (2011). a-Qur’an tematis. Bandung: Mizan Pustaka.

Ormrod, Jeanne Ellis. (2009). Psikologi pendidikan, ilid 2. Jakarta: Erlangga.

Pradityas, Yoana Bela, Imam Hanafi, and Esti Zaduqisti. (2015). Maqamat tasawuf dan terapi kesehatan mental: Studi pemikiran Amin Syukur.” Religia, 18(2), 187-206.

Rachmahana, Ratna Syifa’ A. (2008). Psikologi humanistik dan aplikasinya dalam pendidikan. El Tarbawi, 1(1).

Rogers, Carl Ransom. (1970). Carl Rogers on encounter group. United States of America.

Rogers, Carl Ransom. (1980). A way of being. Boston: Houghton Miflin Company.

Rogers, Carl Ransom. (1983). Freedom to learn for the 80’s. Ohio: Charles E Merrill Publishing Company, A Bell & Hpwell Company.

Saenong, Ilham B. (2004). Sejarah Kalam Tuhan, Kaum Beriman Menalar Al-Quran Masa Nabi, Klasik, dan Modern. Jakarta: Mizan Publika.

Santrock , John W. (2014). Psikologi pendidikan, edisi 5 buku 1 dan 2. Jakarta: Salemba Humanika.

Slavin, Robert E. (2009). Psikologi pendidikan: Teori dan Praktik, edisi kesembilan, jilid 1 dan 2. Jakarta: Indeks.

Smith, Peter B, Michael Harris Bond. (1993). Social psychology across cultures, analysis and perspektives. University Press, Cambridge.

Supratiknya, A. (1993). Teori-teori sifat dan behavioristic. Yogyakarta: Kanisius.

Suryabrata, Sumardi. (2002). Psikologi kepribadian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Syihab, M Qurasy. (2013). Mukjizat al-Quran: Ditinjau dari aspek kebahasaan, isyarat ilmiah, dan pemberitaan ghaib. Bandung: Mizan Pustaka.

Triandis, Harry Charalambos. (1994). Culture and social behavior. New Delhi: McGraw Hill.

Wibisono, Chablullah. (2013). Pengaruh motivasi mu’amalat (Bekerja dan berproduksi, kebutuhan sekunder, kebutuhan primer) terhadap prestasi kerja yang religius. IJTIHAD: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan, 13(2), 233-252.

Woolfolk, Anita. (2009). Educational psychology active learning edition, edisi kesepuluh bagian 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yulian, James. (2008). Belajar kepribadian, the accelerated learning for personality, mengoptimalkan kemampuan berpikir, bersikap, berbicara, bertindak, dan berkarakter. Indonesia: Pustaka Baca.

Zaprulkhan. (2015). Perkembangan Kepribadian Secara Spiritual dalam Perspektif Bediuzzaman Said Nursi. Farabi12(1), 87-105.

Leave a Comment