Oleh: Angga Ardiansyah

  1. Zat Besi dan Fungsinya

Zat besi merupakan salah satu jenis mineral mikro paling banyak di dalam tubuh manusia, yaitu sekitar 3-5 gram di dalam tubuh manusia. Sebagai mineral mikro, jumlah besi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia sangatlah kecil. Besi juga terdapat luas di dalam makanan, terutama dari kelompok pangan hewani. Akan tetapi, dengan kebutuhan kecil tersebut dan meskipun tubuh sangat efisien dalam penggunaan besi, masalah kekurangan besi masih belum terselesaikan di Indonesia (Kemenkes 2014).

Sebagian besar besi dalam bentuk fero (Fe 2+) direduksi menjadi bentuk (Fe 3+ ) dalam suasana asam dengan adanya asam klorida dari lambung atau vitamin C dari makanan. Setelah diserap oleh sel mukosa, besi kemudian dibawa ke dalam sirkulasi darah dalam bentuk besi transport (transferin). Besi tersebut kemudian dibawa ke sumsum tulang belakang untuk keperluan pembentukan hemoglobin dan sel darah merah (eritropoiesis). Kelebihan besi di dalam tubuh disimpan dalam bentuk besi simpanan (feritin) dan hemosiderin di dalam hati. Tubuh akan memanaatkan simpanan tersebut saat asupan besi dari makanan rendah. Sebagian besar zat besi berada dalam hemoglobin (Hb), Hb di dalam darah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa kembali karbon dioksida dari seluruh sel ke paru-paru untuk dikeluarkan dari tubuh (Briawan 2014).

Selain berperan sebagai pembawa oksigen, zat besi juga mempunyai peran dalam reaksi oksidasi dan reduksi selama respirasi (produksi energi). Secara kimia, zat besi merupakan unsur yang sangat reaktif sehingga mampu berinteraksi dengan oksigen. Karena dapat berada dalam dua bentuk ion (Fe 2+ dan Fe 3+), zat besi berperan dalam proses respirasi sel, yaitu sebagai kofaktor bagi enzim-enzim yang terlibat dalam reaksi oksidasi-reduksi (Mahan & Stump 2008). Metabolisme energi dalam proses respirasi tersebut akan mengalami masalah jika tidak ada besi yang cukup di dalam sel, terutama di dalam sel otot (Almatsier 2004).

Zat besi juga berperan dalam imunitas dalam pembentukan sel-sel limfosit (Mahan & Stump 2008). Enzim reduktase ribonukleotida yang digunakan untuk membantu respon limosit T memerlukan besi untuk bekerja secara efektif. Besi juga berperan dalam efektifitas enzim mieloperoksidase, salah satu enzim yang berperan dalam sistem kekebalan. Di samping itu, transferrin mencegah terjadinya infeksi dengan cara memisahkan besi dari mikroorganisme yang membutuhkannya untuk perkembangbiakan (Almatsier 2004).

  1. Masalah Gizi Besi pada Anak

Masa anak merupakan masa yang terentang antara usia bayi sebelum memasuki masa remaja. Pertumbuhan dan perkembangan masih terjadi pada periode ini meskipun relatif lebih lambat dibandingkan periode bayi (Arisman 2002). Menurut WHO (2016), anak-anak merupakan kelompok penduduk usia muda yang mempunyai potensi untuk dikembangkan agar dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan di masa mendatang. Mereka adalah kelompok yang perlu disiapkan untuk kelangsungan bangsa dan negara di masa depan. Namun, masa ini juga merupakan kelompok rentan, dimana masalah gizi dan kesehatan seringkali terjadi dan perlu perhatian khusus.

Saat ini masih banyak anak Indonesia yang mengalami masalah gizi, termasuk anemia gizi besi. Kemenkes (2014) melaporkan bahwa prevalensi anemia gizi besi sebanyak 28,1% pada balita dan 26,4% pada anak usia 5-14 tahun pada tahun 2013. Anemia gizi besi merupakan keadaan dimana jumlah hemoglobin di dalam tubuh kurang dari standart (12 g/dL) sebagai akibat dari kurangnya asupan besi dari makanan. Anemia gizi besi yang terjadi pada anak menyebabkan berbagai dampak negatif, antara lain peningkatan angka kesakitan, penurunan kemampuan intelektual, serta penurunan prestasi di sekolah (Koletzko et al. 2011). Anak wanita yang meng­alami masalah anemia gizi besi akan tumbuh menjadi wanita dewasa dengan kapasitas reproduktif yang tidak optimal dan cenderung melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) (Ramakhrisman 2004; Victora et al. 2008). Rendahnya jumlah dan mutu konsumsi pangan merupakan salah satu penyebab utama terjadinya masalah gizi besi, dan banyaknya anak yang mengalami masalah gizi besi mencerminkan lambatnya perkembangan nasional suatu negara (WHO 2008; Koletzko et al. 2011).

  1. Kebutuhan Besi pada Anak

Kebutuhan besi pada anak dipengaruhi oleh keasaman lambung dan bioavailabilitas termasuk pemacu dan penghambat penyerapan besi pada saat penyerapan. Menurunnya keasaman lambung karena berbagai sebab, misalnya: konsumsi antasida berlebihan, dapat menghambat penyerapan besi. Vitamin C dan asam organik lain merupakan pemicu penyerapan besi yang berasal dari pangan nabati (nonheme). Sementara itu, fitat, polifenol, protein nabati, dan kalsium merupakan penghambat penyerapan besi nonheme (Mahan & Stump 2008; Soekantri dan Kartono 2012).

Besi yang berasal dari sumber hewani (heme) dapat diserap (30%) lebih baik dibanding yang berasal dari sumber nabati (5%). Sumber heme (ikan, ayam dan daging) sendiri mengandung nonheme (60%) dan heme (40%). Konsumsi heme mempunyai keuntungan ganda, yakni selain besinya mudah diserap (23%) dibanding besi dari non heme (2–20%), heme juga membantu penyerapan nonheme. Adanya asam fitat, asam oksalat dan serat berpengaruh negatif terhadap penyerapan besi. Sementara itu, vitamin C akan meningkatkan penyerapan

Besi (Mahan & Stump 2008).

Perhitungan perkiraan penyerapan besi dapat didasarkan pola konsumsi makanan, yaitu 1) penyerapan besi tinggi (15%), 2) penyerapan besi sedang (10%), dan 3) penyerapan besi rendah (5%). Pada menu makanan yang porsi sumber hewaninya besar maka penyerapan besi menjadi maksimal. Sebaliknya, menu makanan yang sebagian besar terdiri atas sumber nabati, penyerapan besi menjadi minimal (Soekantri dan Kartono 2012). Penyerapan besi akan menurun bila konsumsi vitamin C nya rendah dan makanan sumber fitat tinggi. Jenis besi (heme dan nonheme) akan sangat berpengaruh menyerap besi dan interaksinya dengan mineral lain, khususnya seng. Selain itu, keadaan defisiensi besi pada seseorang akan meningkatkan efektifitas penyerapan besi (Mahan & Stump 2008).

  1. Rekomendasi Kecukupan Besi

FAO/WHO maupun IOM menetapkan kecukupan besi pada anak dengan model perhitungan, yaitu kebutuhan besi disajikan sebagai angka median karena distribusi kurvanya tidak normal. Dengan demikian, Estimated Average Requirements (EAR) adalah median kebutuhan besi yang meliputi: kehilangan basal, penambahan massa hemoglobin, besi jaringan dan besi simpanan. EAR sendiri merupakan nilai asupan gizi (besi) yang diperkirakan memenuhi kebutuhan setengah individu sehat dalam kelompok. Asumsi untuk tingkat penyerapan besi ditetapkan 8,5% karena menu makanan di Indonesia umumnya mengandung tinggi zat yang menghambat penyerapan besi. Adapun Recommended Dietary Allowance (RDA) dietapkan 97,5%, dimana RDA tersebut berarti tingkat asupan rata-rata harian yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi (besi) 97,5% individu sehat dalam kelompok (Soekantri dan Kartono 2012).

Anak 1–3 tahun

Untuk anak 1–3 tahun, didasarkan pada median kebutuhan besi 4,6 mg/hari untuk mencakup 97,5% dan penyerapan 8,5% maka kecukupan besi adalah 7,0 mg/hari.

Anak 4–6 tahun

Untuk anak umur 4–6 tahun, median kebutuhan besi adalah 5,0 mg sehari maka diperoleh kecukupan besi 8,0 mg/hari.

Anak 7–9 tahun

Untuk kelompok umur 7–9 tahun, dihitung dengan median kebutuhan besi 7,1 mg/ hari sehingga diperoleh angka kecukupan besi 10,0 mg sehari.

Anak 10-12 tahun

Untuk anak  pria 10–12 tahun, kecukupan besi adalah 13 mg/hari berdasarkan median kebutuhan besi 11,7 mg/hari. Sedangkan kecukupan besi untuk remaja wanita ditetapkan 14 mg/hari berdasarkan EAR 12,0 mg/hari.

Kemenkes (2013) kemudian menyempurnakan tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) sesuai estimasi perhitungan yang telah direkomendasikan oleh Soekatri dan Kartono (2012). Rekomendasi ini yang digunakan sebagai acuan penetapan kecukupan gizi populasi Indonesia. Perubahan mendasar dilakukan pada kelompok anak wanita usia 12 tahun. Pada periode tersebut, anak wanita sudah mengalami awal menstruasi, sehingga asupan besi dari makanan harus mengkompensasi kehilangan besi selama menstruasi.

Tabel 1.
Angka Kecukupan Besi pada Anak

Kelompok Umur Kebutuhan Besi (mg/hari)
EAR RDA RDA adjusted
Bioavailabilitas 8,5% Berat badan *Final

 

1-3 tahun 4,6 5,8 7,0 7 8
4-6 tahun 5,0 6,3 7,5 8 9
7-9 tahun 7,1 8,8 10,3 10 10
10-12 tahun (pria) 11,7 14,6 17,2 13 13
10-12 tahun (wanita) 12,0 14,0 16,5 14 20

*Penyempurnaan dari Kementerian Kesehatan RI

Leave a Comment