Penulis: Dr. H. Abdul Wahib, M.Ag

  1. Pendahuluan

Apakah ada perbedaan religiusitas pada seseorang antara sebelum dan sesudah mengunjungi tanah suci? Ketika pertanyaan ini saya ajukan di ruang kuliah jawabannya adalah kekompakan. “Lebih religius setelah mengunjungi tanah suci”. Meskipun jawaban itu berdasar common sense. Tapi ketika saya ajukan pertanyaan, mana lebih religius antara lelaki dan wanita? Jawaban­nya adalah kegaduhan. Mahasiswa menjawab bahwa laki-laki lebih religius, sementara mahasiswi, tentu saja, men­jawab sebaliknya. Per­tanyaan berikutnya adalah standar apa yang digunakan dalam mengukur religiusitas atau keberagamaan itu.

Ketika kita mengatakan bahwa seseorang itu religius tentu saja itu bisa berarti banyak hal yang terangkum dalam kata religius itu. Keyakinan akan doktrin agama yang dipeluk, kerajinan ke tempat ibadah, keanggotaan pada organisasi keagamaan, suka berderma untuk fakir miskin dan untuk tempat ibadah, perilaku sopan santun dan perilaku baik lain yang dianggap sebagai komitmennya terhadap agama (Stark and Glock, dalam Robertson, 1978: 253).

Keberagamaan diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan akhir. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat mata, tapi juga aktivitas yang tak tampak dan terjadi dalam hati seseorang. Karena itu, keberagamaan seseorang akan meliputi berbagai macam sisi atau dimensi. Dengan demi­kian, agama adalah sebuah sistem yang berdimensi banyak. Agama, dalam pengertian Glock & Starkadalah sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang terlembagakan, yang semuanya itu berpusat pada persoalan-­persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi (ultimate meaning).

Dimensi-dimensi agama yang juga merupakan indikator-indikator keberagamaan dirumuskan oleh banyak ahli dan masing-masig ahli memiliki sudut pandangnya. Di antara para ahli adalah C.Y. Glock dan Rodney Stark (ini yang paling banyak dikutip), Yoshio Fukuyama, Ninian Smart dan lain-lain, sementara dari kalangan Muslim Usman Najati. Tidak semuanya diuraikan di sini, tapi setidak­nya ada tiga nama dengan dimensi-dimensinya masing-masing.

  1. Glock and Stark

Menurut Glock & Stark (Robertson, 1978), ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu dimensi keyakinan (ideologis), dimensi per­ibadatan atau praktek agama (ritualistik), dimensi penghayatan (eksperiensial), dimensi pengamalan (konsekuensi­al), dimensi pengetahuan agama (intelektual).

Pertama, dimensi keyakinan. Dimensi ini berisi pengharapan­-pengharapan di mana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin­-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat kepercayaan di mana para penganut diharapkan akan taat. Walaupun demikian, isi dan ruang lingkup keyakinan itu berva­riasi tidak hanya di antara agama-agama, tetapi seringkali juga di antara tradisi-tradisi dalam agama yang sama.

Kedua, dimensi praktik agama. Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk me­nunjuk­kan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik-praktik keagamaan ini terdiri atas dua kelas penting, yaitu: a) Ritual, mengacu kepada seperangkat ritus, tindakan keagamaan formal dan praktek-praktek suci yang semua meng­harapkan para pemeluk melaksanakan. Dalam Kristen sebagian dari pengharapan ritual itu diwujudkan dalam kebaktian di gereja, persekutuan suci, baptis, perkawinan dan semacamnya; b) Ketaatan. Ketaatan dan ritual bagaikan ikan dengan air, meski ada perbedaan penting. Apabila aspek ritual dari komitmen sangat formal dan khas publik, semua agama yang dikenal juga mem­punyai perangkat tindakan persembahan dan kontemplasi personal yang relatif spontan, informal, dan khas pribadi. Ketaatan di lingkung­an penganut Kristen diungkapkan melalui sembahyang pribadi, membaca Injil dan barangkali menyanyi himne bersama­sama.

Ketiga, dimensi pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memper­hatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengha­rapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa sese­orang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyataan terakhir (kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan supernatural). Seperti telah kita kemukakan, dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang atau didefinisikan oleh suatu kelompok ke­agamaan (atau suatu masya­rakat) yang melihat komunikasi, walaupun kecil, dalam suatu esensi ketuhanan, yaitu dengan Tuhan, kenyataan terakhir, dengan otoritas transendental.

Keempat, dimensi pengetahuan agama. Dimensi ini mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi. Dimensi penge­tahuan dan keyakinan jelas berkaitan satu sama lain, karena penge­tahuan mengenai suatu keyakinan adalah syarat bagi pe­nerimaannya. Walaupun demikian, keyakinan tidak perlu diikuti oleh syarat pengetahuan, juga semua pengetahuan agama tidak selalu bersandar pada keyakinan. Lebih jauh, seseorang dapat berkeyakinan bahwa kuat tanpa benar-benar memahami agama­nya, atau ke­percayaan bisa kuat atas dasar pengetahuan yang amat sedikit.

Kelima, dimensi pengamalan atau konsekuensi. Konse­kuensi komit­men agama berlainan dari keempat dimensi yang sudah dibicarakan di atas. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan penge­tahuan seseorang dari hari ke hari. Istilah “kerja” dalam pengertian teologis digunakan di sini. Walaupun agama banyak menggariskan bagaimana pemeluk­nya seharusnya berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari, tidak sepenuhnya jelas sebatas mana konsekuensi-konsekuensi agama merupakan bagian dari komit­men keagamaan atau semata-mata berasal dari agama (Robertson, 1978: 256-257; Ancok dan Suroso, 1994: 76-78).

  1. Ninian Smart

Smart secara luas dikenal karena teori dimensi agama yang menurutnya ada tujuh. Pendekatan yang digunakan Smat menghindari masalah pendefinisian. Apa pun agamanya, apakah agama wahyu atau non-teistik, agama-agama itu memiliki unsur tertentu yang dikenali dan dapat dipelajari. Dimensi ini bervariasi dalam pentingnya tapi hampir selalu hadir. Smart membagi dimeni-dimensi menjadi “his­toris” dan “para-historis”. Yang “historis” dapat dipelajari secara empiris, sementara para-historis membawa pengkaji ke ranah ke­yakinan dan konsep serta membutuhkan dialog dan partisipasi dari yang dikaji. Mengingat kajian tentang manusia harus masuk ke dalam intensitas manusia, keyakinan, mitos, keinginan-keinginannya, agar benar-benar bisa memahami mengapa mereka berbuat sebagaimana yang telah mereka kerjakan. Adalah fatal, demikian tulis Smart, jika budaya termasuk di dalamnya budaya kita didikripsikan semata-mata dari sudut pandang eksternal, tanpa adanya dialog dengan yang ber­sangkutan (https://en.wikipedia.org/wiki/Ninian_Smart).

Dalam menganalisis dimensi agama Ninian Smart meng­guna­kan analisis pandangan-dunia untuk menggali dimensi-dimensi agama, yang dipandang sebagai suatu pandangan-dunia. Ninian Smart dalam karyanya The Religious Experience of Mankind (1967) menyebutkan, bahwa dimensi agama terdapat tujuh bagian, yaitu 1) dimensi praktis atau ritual, 2) naratif atau mistis (Narrative and Mythic), 3) peng­alaman dan emosional (Experiential and emotional), 4) dimensi sosial atau organisasional/institusional (Social and Institutional), 5) etis dan legal (Ethical and legal), 6) doktrinal atau filosofis (Doctrinal and philosophical), 7) dan material/bahan (http://zabalahque.blogspot. com/2010/05/dimensi-dimensi-agama_20.html).

Dimensi pertama adalah dimensi praktis-ritual yang sebagaimana tampak dalam upacara suci, perayaan hari besar, pantang dan puasa untuk pertobatan, doa, kebaktian, dan sebagainya yang berkenaan dengan ritualiatas agama. Dimensi kedua, emosional-eksperiensial menunjuk pada perasaan dan pengalaman para penganut agama, dan tentunya bervariasi. Peristiwa-peristiwa khusus, gaib, luar biasa yang dialami para penganut menimbulkan berbagai macam perasaan dari kesedihan dan kegembiraan, kekaguman dan sujud, ataupun ke­takutan yang membawa pada pertobatan. Topik yang penting dalam dimensi pengalaman keagamaan antara lain yang disebut mistik, di mana si pemeluk merasakan kesatuan erat dengan ilahi. Dimensi naratif atau mistik menyajikan kisah atau cerita-cerita suci, untuk direnungkan, dicontoh, karena di situ ditampilkan tokoh-tokoh suci, pahlawan ataupun kejadian-kejadian yang penting dalam pembentuk­an agama yang bersangkutan.

Dimensi filosofis-doktrinal adalah dimensi agama yang menyaji­kan pemikiran rasional, argumentasi, dan penalaran terutama me­nyangkut ajaran-ajaran agama, pendasaran hidup, dan pengertian dari konsep-konsep yang dianut oleh agama itu. Dimensi legal-etis men­yangkut tata tertib hidup dalam agama itu, pengaturan bersama, dengan norma-norma dan pengaturan, tidak jarang disertai pula dengan system penghukuman kalau terjadi pelanggaran. Dimensi sosial-institusional mengatur kehidupan bersama menyangkut ke­pemerintahan keorganisasian, pemilihan dan penahbisan pemimpin, kejemaatan, dan penggembalaan. Akhirnya dimensi material me­nyangkut barang-barang, alat-alat yang digunakan untuk pemujaan atau untuk pelaksanaan kehidupan agama itu. Termasuk di sini bangunan-bangunan, tempat-tempat ibadah.

Ketujuh dimensi ini dapat diamati dan diteliti dalam perspektif pengalaman keagamaan. Akan tetapi, dalam rangka perubahan budaya dewasa ini, di mana persaingan nilai-nilai dalam masyarakat begitu gencar, maka dimensi filosofis-doktriner yang beraturan dengan fungsi apologetic (penjelasan) kiranya merupakan dimensi yang paling penting perannya.

Seorang fenomenolog dan filosof keagamaan tersebut, Ninian Smart, mengidentifikasikan tujuh dimensi agama sebagai manifestasi agama, dari tataran normatif menjadi historis, yang kemudian memungkinkannya untuk melakukan semua jenis pendekatan pada studi agama, dan juga dalam cara meraih kebenaran dalam berbagai macam agama yang ada.

  1. Usman Najati

Dalam membahas tentang pola-pola kepribadian manusia, dalam al-Qur’an wa ‘Ilm Nafs, Usman Najati (1985: 256) membagi ke­pribadi­an manusia menjadi tiga, yakni orang yang beriman, orang kafir dan orang munafik. Tiga pola kepribadian ini diulas, indikator- indikator yang digunakan untuk membuat kategori itu juga dibuat. Ketika menjabarkan pola kepribadian orang beriman Usman Najati menulis ada sembilan indikator. Indikator-indikator itu adalah sebagai berikut.

  1. Sifat-sifat yang berkenaan dengan aqidah

Sifat-sifat orang yang beriman adalah mereka yang beriman kepada Allah, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, malaikat, hari akhir, ke­bangkit­­an dan perhitungan, surga dan neraka, hal yang gaib, dan qadar.

  1. Sifat-sifat yang berkenaan dengan ibadah

Ibadah di sini meliputi menyembah Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban shalat, berpuasa, zakat, haji, berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa, bertakwa kepada Allah, mengingat-Nya selalu, memohon ampun kepada-Nya, berserah diri kepada-Nya, dan membaca al-Qur’an.

  1. Sifat-sifat yang berkenaan dengan hubungan sosial

Termasuk tanda-tanda orang yang beriman adalah mereka yang bergaul dengan orang lain secara baik, dermawan dan suka berbuat kebajikan, suka bekerjasama, tidak memisahkan diri dari kelompok, menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, suka memaafkan, mementing­kan kepentingan orang lain, dan menghindar diri dari hal-hal yang tidak ada manfaatnya.

  1. Sifat-sifat yang berkenaan dengan hubungan kekeluargaan

Berbuat baik kepada kedua orang tua dan kerabat, pergaulan yang baik antara suami dan isteri, menjaga dan membiayai keluarga.

  1. Sifat-sifat moral.

Secara moral bersikap sabar, lapang dada, lurus, adil, me­laksanakan amanat, menepati janji kepada Allah dan kepada manusia, menjauhi dosa, rendah hati, teguh dalam kebenaran dan di jalan Allah, luhur jiwa, mempunyai kehendak yang kuat serta mampu memengendalikan hawa nafsu.

  1. Sifat-sifat emosional dan sensual.

Cinta kepada Allah, takut akan azab Allah, tidak putus asa akan rahmat Allah, cinta dan senang berbuat kebajikan kepada sesama, menaham marah dan bisa mengendalikan ke­marahan, tidak suka memusuhi orang lain dan menyakiti­nya, tidak dengki pada orang lain, tidak menyombongkan diri, penyayang, menyesali diri dan merasa bersalah setelah melakukan dosa.

  1. Sifat-sifat intelektual dan kognitif.

Orang beriman menggunakan akalnya untuk berfikir tentang alam semesta dan ciptaan Allah, selalu menuntut ilmu, tidak mengikuti sesuatu yang masih merupakan dugaan, teliti dalam menelai suatu realitas, bebas dalam berpikir dan beraqidah.

  1. Sifat-sifat yang berkenaan dengan kehidupan praktis dan pro­fessional

Orang yang beriman senantiasa tulus dalam bekerja, semua untuk Allah dan tentu saja akan berakibat baik bagi diri sendiri, bekerja secara maksimal, berusaha tak kenal lelah dalam upaya. memperoleh rezki yang halal.

  1. Sifat-sifat fisik.

Orang yang beriman juga ditandai dengan fisik yang kuat, sehat, bersih, dan suci dari najis (Usman Najati, 1985: 258-259).

Jika dibandingkan dimensi-dimensi dari 3 ahli tersebut dimuka maka perbandingannya sebagai berikut.

Tabel 1.
Perbandingan Dimensi-dimensi Agama dari 3 Ahli

No Glock n Stark Ninian Smart Usman Najati
1 Beliefe doktrinal atau filosofis Aqidah
2 Religiuos Practise praktis atau ritual ibadah
3 Experience pengalaman dan emosional
4 Knowledge intelektual dan kognitif
5 Consequence sosial atau organisasional hubungan sosial

hubungan kekeluargaan

moral

6 kehidupan praktis dan professional
7 fisik
8 naratif atau mistis (Narrative and Mythic),
9 etis dan legal
10 material/bahan

Perbandingan dimensi-dimensi agama sebagaimana tertulis di atas menunjukkan variasi yang menjadi perhatian masing-masing ahli. Dimensi agama model Glock dan Stark memang sangat simple yakni hanya terdiri atas 5 dimensi. Meskipun sangat simple tapi hampir semua penelitian tentang religiusitas dimensinya menggunakan model Glock dan Stark. Dimensi yang simple menjadikan para peneliti lebih leluasa mengembangkan instrumen.

Dari tiga model itu ada beberapa titik temu yakni pada beliefe, religious practise, experience, knowledge dan consequence sebagai­mana dimensi inti yang digagas oleh Glock dan Stark.

Sembilan dimensi yang digagas oleh Usman Najati dengan mengambil sumber teorinya dari al-Qur’an memang lebih lengkap. Beberapa dimensi baru yang disodorkan oleh Najati, antara lain dimensi moral, hubungan sosial, kekeluargaan dan fisik sesungguhnya patut dipertimbangkan sebagai bagian dari dimensi keberagamaan.[]

Daftar Pustaka

Charles Y Glock and Rodnesy Stark. (1978). “Dimension of Religious Commitment” dalam Roland Robertson (Ed.), Sociology of Religion, Auckland: Penguin Book,.

Ancok, Djamaluddin dan Suroso, Fuad Nashori. (1994). Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Usman Najati, al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, terj. Ahmad Rofi’ Usman, Bandung: Pustaka, 1985.

https://en.wikipedia.org/wiki/Ninian_Smart.

http://zabalahque.blogspot.com/2010/05/dimensi-dimensi-agama_20.html

 

Leave a Comment