FPK News, Denpasar – Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang diikuti sebanyak 180 mahasiswa dan 10 dosen pendamping melakukan kunjungan studi ke Suryani Institute for Mental Health, bertempat di Pendopo Gubernur Denpasar Bali pada Jum’at, 23 Januari 2026. Rombongan disambut hangat oleh tim inti dan relawan Suryani Institute. Sambutan utama disampaikan oleh Prof. Dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.KJ(K) seorang psikiater serta Guru Besar Universitas Udayana, sekaligus putra dari pendiri lembaga. Dalam pemaparannya, Dr. Cokorda menjelaskan berdirinya lembaga ini, lembaga ini berdiri sejak 2005 bersama dengan organisasi afiliasi seperti Komite Anti Pelecehan Seksual (CASA) dan Yayasan Kesejahteraan Lansia Bali (Yayasan Wreda Sejahtera). Suryani Institute for Mental Health ini berdedikasi penuh untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan bahagia. “Kami berupaya menciptakan komunitas yang sehat melalui pendekatan biopsikospiritual-sosiokultural. Fokus kami adalah menjadikan Bali sebagai pusat pemahaman kemampuan spiritual untuk mencapai kebahagiaan hidup,” jelas prof. Dr. Cokorda.
Perwakilan dari FPK UIN Walisongo, Ibu Lucky Ade Sessiani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, memberikan sambutan balasan yang menekankan pentingnya kolaborasi ini. Beliau menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa adalah untuk belajar langsung mengenai penanganan isu kesehatan mental secara holistic “Tujuan kedatangan kami adalah untuk berdiskusi mengenai dedikasi Suryani Institute. Kami berharap semangat pengabdian di sini dapat kami implementasikan dalam lingkup kerja atau komunitas nantinya, sekaligus memberikan gambaran nyata terkait praktik psikologi klinis di lapangan,” ungkap Ibu Lucky.
Momen yang paling dinantikan adalah sesi meditasi yang dibimbing langsung oleh Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, Sp.KJ(K) selaku founder sekaligus psikiater terkemuka. Prof. Suryani dikenal dunia internasional melalui metodenya yang unik dengan menggabungkan budaya Bali dengan ilmu psikiatri modern.
Di bawah bimbingan Prof. Suryani, para mahasiswa diajak menyelami pendekatan mind, body, spirit-socio cultural. Sesi ini memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa mengenai bagaimana ketenangan batin dan koneksi spiritual dapat menjadi sarana penyembuhan dan pencegahan gangguan jiwa.
Kunjungan ini tidak hanya memberikan wawasan teoritis, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan spiritualitas para peserta. Dengan partisipasi aktif 180 mahasiswa, kegiatan ini diharapkan mampu mencetak calon psikolog yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati dan pendekatan yang humanis-holistik.
Kontributor: Tim Pendamping KKL Psikologi 2026
Editor & Publisher: Tim Humas FPK
