Oleh: Dwi Hartatanti

Pembangunan nasional yang dilaksanakan di Indonesia dalam semua aspek kehidupan telah meningkatkan taraf hidup dan kemakmuran masyarakatnya. Dengan adanya peningkatan keAi??makmurAi??an dan ditambah adanya modernisasi menyebabkan terjadinya perubahan pada gaya hidup dan konsumsi pangan masyarakat. Terjadinya pergeseran pola makan yang mengarah ke pola makan Barat yang cenderung tinggi kalori dan lemak serta ditambah minimnya aktivitas fisik memberi dampak pada meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia (Satoto dkk, 1998).

Mortalitas obesitas erat hubungannya dengan sindroma metabolik yang memiliki manifestasi klinis berupa penyakit jantung dan pembuluh darah serta Diabetes Mellitus tipe 2 (Malik et al., 2004). Sindrom metabolik adalah kumpulan gejala dari berbagai faktor risiko kardiometabolik. Sindrom metabolik adalah suatu sindrom yang terdiri dari sekumpulan gejala meliputi peningkatan ukuran lingkar pinggang, peningkatan kadar trigliserida darah, penurunan kadar high density lipoprotein (HDL)-kolesterol darah, tekanan darah tinggi, dan intoleransi glukosa.

Berdasarkan theAi??National Cholesterol Education Program Third Adult Treatment PanelAi??(NCEP-ATP III) yang telah dimodifikasi untuk populasi Asia, sindrom metabolik memiliki 5 kriteria antara lain:

1)Ai??Ai??Ai??Ai??Ai?? Obesitas abdominal (lingkar pinggang > 80 cm untuk wanita dan untuk pria > 90 cm)

2)Ai??Ai??Ai??Ai??Ai?? PeningkatanAi?? kadar trigliserida darah ai??? 150 mg/dL

3)Ai??Ai??Ai??Ai??Ai?? Penurunan kadar kolesterol HDL < 45 mg/dL pada pria dan pada wanita < 50 mg/dL

4)Ai??Ai??Ai??Ai??Ai?? Peningkatan tekanan darah sistolik ai??? 130 mmHg, tekanan darah diastolik ai??? 85 mmHg

5). Peningkatan glukosa darah puasa (kadar glukosa puasa) ai??? 110 mg/dL

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa seorang individu yang mempunyai 3 dari 5 gejala tersebut sudah dapat dinyatakan menderita sindrom metabolik.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa sindroma metabolik ditemuAi??kan 22% pada orang dewasa overweight dan 60% pada kelompok obesitas. Prevalensi sindroma metabolik meningkat dengan berAi??tambahAi??nya usia sekitar 10% pada penduduk di atas 20 tahun dan mencapai 40% pada usia di atas 60 tahun (Mayo Clinic, 2009). Data epidemiologi menyebutkan prevalensi sindroma metabolik dunia adalah 20ai??i??25%. Hasil penelitian Framingham Offspring Study menemukan bahwa pada responden berusia 26ai??i??82 tahun terdapat 29,4% pria dan 23,1% wanita menderita sindroma metabolik (Ford).Ai??Ai?? Data dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) menunjukkan prevalensi SM sebesar 13,13% (Cameron, 2004).

Konsep dari Sindrom Metabolik telah ada sejak Ai??80 tahun yang lalu, pada tahun 1920, Kylin, seorang dokter Swedia, merupakan orang pertama yang menggambarkan sekumpulan dari gangguan metabolik, yang dapat menyebabkan resiko penyakit kardiovaskuler aterosAi??klerosis yaitu hipertensi, hiperglikemi dan gout (Eckel, dkk, 2005).

Pada tahun 1988, Reaven menunjukkan berbagai faktor resiko: dislipidemi, hiperglikemi dan hipertensi secara bersamaan dikenal sebagai multiple risk factor untuk penyakit kardiovaskuler dan disebut dengan sindrom X. Selanjutnya sindrom X ini dikenal dengan sindrom resistensi insulin. Dan kemudian NCEP-ATP III menamakan dengan istilah Sindrom Metabolik. Konsep Sindrom Metabolik ini telah banyak diterima secara Internasional (Reaven, 1988).

Faktor resiko terjadinya sindroma metabolik antara lain:

  1. Berat badan berlebih (bagian abdominal).

Terjadinya kelebihan berat badan adalah sebagai akibat dari ketidakseimbangan asupan dan pengeluaran energi. Pola konAi??sumsi tinggi kalori dan lemak serta rendah serat, ditambah pola hidup sedentary menyebabkan timbunan massa lemak dalam tubuh meningkat sehingga mengakibatkan obesitas.

  1. Resistensi Insulin.

Merupakan kelainan dasar pada sindroma metabolik. Ai??Insulin adalah hormon yang dibuat oleh pankreas yang membantu mengontrol jumlah gula dalam aliran darah. Resistensi insulin dijumpai pada sebagian besar pasien dengan Sindrom Metabolik. Sistem pencernaan memecah makanan menjadi gula (glukosa). Darah membawa glukosa ke jaringan tubuh, di mana sel-sel menggunakannya sebagai bahan bakar. Glukosa memasuki sel-sel dalam tubuh Anda dengan bantuan insulin. Pada orang dengan resistensi insulin, sel-sel tidak merespon secara normal terhadap insulin, dan glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel dengan mudah. Akibatnya, kadar glukosa dalam darah meningkat dan hasilnya lebih tinggi dari tingkat normal insulin dalam darah. Hal ini akhirnya dapat menyebabkan diabetes ketika tubuh tidak dapat membuat cukup insulin untuk menjaga glukosa darah dalam kisaran normal.

Bahkan jika tingkat glukosa tidak cukup tinggi untuk masuk dalam kategori diabetes, tingkat glukosa tersebut masih bisa berbahaya. Kondisi ini sebagai ai???pradiabetesai???. Ai??Peningkatan resistensi insulin menaikkan tingkat trigliserida dan kadar lemak darah lainnya. Hal ini juga mengganggu kerja ginjal, menyebabkan tekanan darah tinggi. Efek gabungan dari resistensi insulin meningkatkanAi?? risiko penyakit jantung, stroke, diabetes dan kondisi lain

  1. Usia

Dengan peningkatan umur terjadi perubahan komposisi tubuh meliputi peningkatan massa lemak, penurunan massa bebas lemak serta penurunan massa tulang. Secara epidemiologi, perAi??ubahan komposisi tubuh tersebut, khususnya peningkatan proAi??porsi dan distribusi lemak tubuh akan menyebabkan terAi??jadiAi??nya peningkatan akumulasi lemak sentral di abdomen yang mengAi??akibatkan obesitas abdominal.

  1. Psikososial stres melalui mekanisme gangguan keseimbangan hormon hypothalamic-pituitary-adrenal axis (HPA-axis).

Adanya sindrom metabolik menyebabkan peningkatan resiko penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2, Hipertensi, Atherosklerosis, Stroke, Jantung Koroner, dan Gout. Cara utama dalam mendiagnosis adalah melalui pemeriksaan tekanan darah, pengukuran lingkar pinggang dan berat badan serta tes darah untuk mendeteksi kadar gula darah sekaligus kolesterol. Terdapat beberapa langkah sederhana untuk mencegah sindrom metabolik, antara lain:

  1. Konsumsi makanan seimbang dan cukup serat
  2. Batasi konsumsi makanan manis, asin dan berlemak
  3. Olahraga secara rutin ( 2-3x seminggu dengan durasi 30-60 menit)
  4. Hindari rokok
  5. Kelola stress
  6. Pantau berat badan dan tekanan darah secara berkala dan lakukan tes kadar gula darah dan kolesterol secara rutin. []

Leave a Comment