Semarang, 30 April 2026 — Gedung Teater Sosial Humaniora Kampus 3 UIN Walisongo Semarang dipadati mahasiswa pada Kamis pagi. Sekitar 100 peserta menghadiri talkshow bertajuk “Antara Takdir dan Ikhtiar: Quarter Life Crisis dalam Perspektif Psikologi dan Tafsir.” Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara program Psychodiscuss dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Psikologi Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) dan Teras Tafsir dari HMJ Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM).
Talkshow ini bertujuan membekali mahasiswa dengan kesiapan mental dan spiritual dalam menghadapi fase quarter life crisis, yaitu periode krisis yang umum dialami pada usia dewasa awal. Fenomena ini semakin banyak dirasakan mahasiswa, namun masih jarang dibahas secara terbuka, terlebih dari sudut pandang psikologi dan tafsir Al-Qur’an secara bersamaan.
Acara diawali dengan registrasi peserta, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sambutan disampaikan oleh Ketua Pelaksana Restu Muhammad Irhas Agustya, Ketua HMJ Psikologi Khairunnisa Alfina, Ketua HMJ Ilmu Tafsir M. Khoirul Anwar, Wakil Dekan FPK Dr. Dina Sugiyanti, M.Si., serta Wakil Dekan FUHUM Dr. Mokh. Sya’roni, M.Ag.
Sebelum memasuki sesi inti, peserta mengikuti pre-test dan post-test sebagai bagian dari evaluasi kegiatan. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, dengan rata-rata nilai peserta meningkat dari 60 persen pada pre-test menjadi 93 persen pada post-test. Peserta juga diperkenalkan dengan aktivitas komunitas SULBI (Sahabat Unik Luar Biasa Inklusi) sebagai bentuk edukasi inklusivitas.
Sesi talkshow menghadirkan dua narasumber, yaitu Nadia Rosliani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Psikologi UIN Walisongo, serta Dr. Imam Agus Kharomen, M.Ag., dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo. Diskusi dipandu oleh moderator Vidya Rahma Aurelia dengan MC Mega Lestari.

Dalam pemaparannya, Dr. Imam Agus Kharomen menjelaskan konsep takdir secara komprehensif dengan merujuk pada pemikiran Fahruddin Ar-Razi. Ia menyebutkan bahwa takdir mencakup tiga dimensi utama, yaitu pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu, kehendak azali, dan sunnatullah atau sistem alam.
“Takdir itu ibarat sistem. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia yang akan berhasil. Jadi, takdir tidak menghalangi manusia untuk terus berusaha,” ujarnya. Ia menambahkan, setelah manusia melakukan ikhtiar terbaik, hasil akhir sepenuhnya diserahkan kepada Allah sebagai bentuk ketenangan batin.
Sementara itu, dari perspektif psikologi, Nadia Rosliani menyoroti fenomena quarter life crisis yang kerap dipicu oleh kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
“Jangan membandingkan diri kita yang masih berproses dengan orang yang sudah berada di titik pencapaian. Bandingkanlah pencapaian ketika berada pada fase yang setara,” jelasnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk mengenali potensi diri serta memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing sebagai langkah awal dalam menentukan arah hidup.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta, khususnya terkait kecemasan menghadapi masa depan. Menutup kegiatan, kedua narasumber menyampaikan pesan reflektif. Nadia Rosliani menekankan pentingnya konsistensi dalam langkah kecil, sementara Dr. Imam Agus mengingatkan bahwa ibadah menjadi jalan untuk mengenal Allah sekaligus mencapai ketenangan hidup.
Ketua pelaksana berharap kegiatan ini dapat menjadi titik balik bagi mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan kehidupan dan tidak merasa sendiri dalam menjalani fase krisis.
Acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan sertifikat kepada narasumber, sebagai penanda keberhasilan kolaborasi antara perspektif psikologi dan tafsir di lingkungan UIN Walisongo Semarang.
