FPK News, Semarang – Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kembali menyelenggarakan Diskusi Dosen sebagai forum akademik dalam memperkuat budaya ilmiah, meningkatkan kompetensi dosen, serta memperkaya wawasan keilmuan di bidang psikologi dan kesehatan. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 30 Juni 2026, di Lantai 1 Gedung Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Fitriyati, S.Psi., M.Si. dengan materi “Resiliensi Guru Inklusi” dan Otih Jembarwati, S.Psi., M.A. yang membawakan materi “Identitas Diri vs Kelompok bagi Remaja”. Kegiatan diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa yang antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya FPK UIN Walisongo Semarang dalam membangun budaya akademik yang produktif melalui forum berbagi pengetahuan antardosen. Selain menjadi wadah pengembangan kompetensi akademik, diskusi ini juga mendorong lahirnya berbagai gagasan ilmiah yang mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu psikologi, pendidikan, dan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen UIN Walisongo Semarang sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di bawah binaan Kementerian Agama Republik Indonesia dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang tangguh, berintegritas, adaptif terhadap perubahan, serta mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Baidi Bukhori, S.Ag., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan Diskusi Dosen merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam membangun budaya akademik yang berkualitas sekaligus memperkuat karakter sivitas akademika.

“Resiliensi dan identitas diri merupakan bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan kehidupan. Karena itu, FPK terus berkomitmen menghadirkan ruang akademik yang mendorong penguatan kompetensi sekaligus karakter peserta didik,” ujar Prof. Dr. Baidi Bukhori, S.Ag., M.Si.

Pada sesi pertama, Fitriyati, S.Psi., M.Si. memaparkan materi mengenai Resiliensi Guru Inklusi. Ia menjelaskan bahwa istilah resiliensi berasal dari bahasa Latin resilire yang berarti melompat kembali (to jump back) atau bangkit kembali (to bounce back) setelah mengalami tekanan. Dalam perspektif psikologi, resiliensi dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk bertahan, bangkit, dan beradaptasi secara positif ketika menghadapi berbagai kesulitan maupun perubahan dalam kehidupan.

Fitriyati menegaskan bahwa individu yang resilien bukan berarti tidak pernah mengalami kesedihan, kegagalan, kelelahan, ataupun stres. Sebaliknya, mereka tetap merasakan berbagai emosi tersebut, namun memiliki kemampuan mengelolanya secara sehat sehingga mampu pulih, belajar dari pengalaman, dan melanjutkan kehidupannya secara produktif.

Dalam pemaparannya, Fitriyati mengulas teori Norman Garmezy, pelopor penelitian resiliensi dalam psikologi perkembangan. Garmezy menemukan bahwa individu yang hidup dalam kondisi penuh risiko, seperti kemiskinan, konflik keluarga, maupun orang tua dengan gangguan mental, tidak selalu mengalami kegagalan perkembangan. Keberadaan faktor-faktor pelindung (protective factors), seperti dukungan keluarga, hubungan sosial yang positif, kemampuan memecahkan masalah, serta karakter yang adaptif, mampu membantu seseorang tumbuh menjadi individu yang sehat secara psikologis.

Konsep tersebut kemudian diperkuat oleh Ann Masten melalui teori ordinary magic, yang menjelaskan bahwa resiliensi bukanlah kemampuan luar biasa yang hanya dimiliki segelintir orang, melainkan kapasitas alami yang dapat dikembangkan oleh setiap individu melalui lingkungan yang mendukung, kemampuan regulasi emosi, hubungan sosial yang sehat, serta pengalaman hidup.

Dalam konteks pendidikan, Fitriyati menjelaskan bahwa resiliensi merupakan kompetensi yang sangat penting dimiliki guru, khususnya guru inklusi. Guru menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keberagaman karakteristik peserta didik, tuntutan profesional, hingga kebutuhan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan suportif. Oleh karena itu, guru dituntut memiliki sikap sabar, fleksibel, optimis, serta mampu beradaptasi terhadap berbagai situasi yang dinamis.

Ia juga menekankan bahwa konsep resiliensi sangat relevan bagi mahasiswa. Berbagai tekanan akademik maupun nonakademik, seperti penyelesaian tugas, skripsi, tuntutan prestasi, penyesuaian sosial, hingga kecemasan menghadapi masa depan, membutuhkan kemampuan untuk tetap bertahan, mencari solusi, dan menjadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang. Menurutnya, resiliensi bukan sekadar kemampuan bertahan, tetapi juga kemampuan untuk bertumbuh (grow), beradaptasi, serta menemukan makna di balik setiap pengalaman hidup.

Pada sesi kedua, Otih Jembarwati, S.Psi., M.A. membawakan materi mengenai “Identitas Diri vs Kelompok bagi Remaja”. Ia menjelaskan bahwa masa remaja hingga dewasa awal merupakan fase penting dalam proses pembentukan identitas diri (identity formation). Pada masa tersebut, seseorang mulai mencari jawaban mengenai siapa dirinya, nilai yang diyakini, tujuan hidup yang ingin dicapai, serta peran yang akan dijalankan dalam kehidupan bermasyarakat.

Mengacu pada teori perkembangan psikososial Erik Erikson, Otih menjelaskan bahwa remaja berada pada tahap Identity vs Role Confusion, yaitu fase ketika individu berusaha menemukan identitas dirinya. Apabila proses tersebut tidak berjalan dengan baik, individu berpotensi mengalami identity confusion, yaitu kebingungan mengenai jati diri, tujuan hidup, maupun nilai yang dianut.

Untuk membangun identitas diri yang sehat, seseorang perlu meningkatkan self-awareness atau kesadaran diri dengan mengenali kekuatan, kelemahan, emosi, nilai, serta potensi yang dimiliki. Selain itu, individu juga perlu mengeksplorasi minat dan bakat secara terarah, memanfaatkan layanan konseling maupun psikoterapi apabila mengalami hambatan psikologis, serta mengurangi penggunaan media sosial dan screen time yang berlebihan karena dapat memicu social comparison yang berdampak pada rendahnya rasa percaya diri.

Otih juga menjelaskan konsep identity moratorium, yaitu kondisi ketika individu masih berada dalam proses eksplorasi berbagai pilihan identitas tanpa segera membuat komitmen tertentu. Menurutnya, fase tersebut merupakan bagian yang wajar dalam perkembangan selama individu tetap memperoleh pendampingan dan berada di lingkungan yang mendukung.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan identitas diri. Oleh karena itu, remaja didorong untuk bergabung dengan komunitas yang positif, suportif, dan memberikan ruang berkembang, bukan lingkungan yang dipenuhi perilaku perundungan (bullying) maupun tekanan negatif.

Dalam perspektif Psikologi Islam, Otih menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur melalui prestasi duniawi, tetapi juga dari ketakwaan, keikhlasan, serta amal kebaikan. Hubungan yang kuat dengan Allah SWT menjadi sumber ketenangan, makna hidup, dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Ia juga mengajak peserta untuk membangun identitas diri melalui penerimaan diri (self-acceptance), memberikan penghargaan atas setiap perkembangan diri (self-reward), memilih lingkungan pergaulan yang sehat, memperkuat hubungan spiritual melalui ibadah dan doa, serta menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menurutnya, kemampuan menyadari kekurangan diri bukan merupakan tanda kelemahan, melainkan langkah awal menuju perubahan dan kematangan pribadi.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berlangsung aktif dan interaktif. Dosen serta mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan mengenai tantangan membangun resiliensi dan identitas diri di era digital, pengaruh kelompok sebaya, hingga strategi menghadapi tekanan akademik maupun sosial.

Dalam sesi diskusi tersebut, kedua narasumber menegaskan bahwa resiliensi dan identitas diri merupakan dua aspek psikologis yang saling berkaitan. Individu yang memiliki identitas diri yang kuat cenderung lebih resilien dalam menghadapi tekanan, sementara resiliensi yang baik membantu seseorang mempertahankan nilai, tujuan hidup, dan prinsip yang diyakininya di tengah berbagai tantangan. Bagi mahasiswa, kedua kemampuan tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi dinamika kehidupan akademik, sosial, maupun persiapan memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

Melalui kegiatan Diskusi Dosen ini, Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang berharap budaya akademik yang kolaboratif terus berkembang serta mampu menghasilkan berbagai inovasi dan pemikiran ilmiah yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu psikologi, peningkatan kualitas pendidikan, serta penguatan karakter generasi muda yang unggul, adaptif, dan berakhlakul karimah.